Cerita Prasmul

Jackhammer To Jackersfield: Berani Rebranding demi Perkuat Asosiasi – Prasmulyan’s Enterprises

Menilik ramainya fashion ads dalam sekali scrolling di media sosial, tentu terbayang bagi Anda betapa saturated-nya pasar pakaian lokal saat ini. Karenanya, selain upaya bersaing di sisi harga dan kualitas, terdapat satu Point of Difference yang gencar ditawarkan brand fashion masa kini. Tahukah Anda apa itu? Jawabannya adalah asosiasi yang unik dan relevan, seperti Jackhammer gagasan Alumnus MM Business Management Prasetiya Mulya. Mari menyimak kisahnya!

Menuangkan Dedikasi Engineer dalam Desain Fashion

Jackhammer merupakan local fashion brand yang pertama kali dibangun oleh Prasmulyan, Ardika Syahputra dengan ketiga karibnya pada 2012. Ketika komunitas pecinta denim yang aktif diikuti rata-rata membuka bisnis pakaian yang hype pada masanya seperti celana jeans, Jackhammer semula hadir dengan produk komplementernya, kemeja dan pakaian. Pada 2017, Jackhammer di bawah pimpinan Ardika pun re-group, dan siap memasuki pasar retail.

Jackhammer banyak mengidentikan desain lainnya dengan profesi atau nilai filosofis.

“3 per 4 dari kami, penggagas awalnya ini anak teknik yang masih hangat dengan dunia engineering. Jadi kami cari sesuatu yang relate dengan kami seperti desain Bonsai yang menggambarkan kerja keras, dedikasi, dan banyak hal lain yang secara nggak langsung berhubungan sama engineering,” ungkap lulusan S1 Teknik Kimia tersebut.

Dari interest yang niche, ditambah keunggulan harga yang affordable, ekstensi produk Jackhammer juga dibarengi dengan desain yang filosofis, sebut saja edisi Whopper Stopper yang bercerita tentang aktivitas memancing, koleksi self-determination yang menggambarkan profesi fotografi, pelukis dan bidang kreatif lainnya. 

“Makanya kita punya slogan Pride & Hardwork, Genuine Garment – Forever Enduring, yang inti keywords-nya itu asosiatif dengan segala sesuatu butuh kerja keras, desikasi, konsistensi, persistensi.”

Memerhatikan Detail Asosiatif agar Tetap Relevan

Keberanian Ardika untuk shifting ke bisnis turut d

Jika cool kids jaman dahulu identik dengan denim dan sepatu boots, kehadiran sneakers, bomber jacket, dan gaya pakaian baru lainnya banyak membuat style masa lalu tak relevan lagi dengan anak muda di masa sekarang. Begitupun dengan persepsi yang ditampilkan dari detail  brand, seperti nama dan logo. 

Dengan pertimbangan brand awareness yang masih belum masif, Ardika berani melakukan rebranding untuk memasuki tahun ke-10 Jackhammer. “Ini tercetus dari Prasetiya Mulya yang membiasakan untuk membaca data, di mana saya jadi tahu kalau 90% penjualan pakaian di Indonesia berasal dari toko fisik. Karena itu, rebranding ini upaya awal kita masuk ke mall dan meningkatkan feasibility,” sambungnya.

“Dari dulu Jackhammer sangat terasosiasi dengan sosok alat engineering yang menggambarkan maskulin, tapi kita lihat sekarang wah kayanya nggak bisa seperti dulu karena tren pun bergeser. Butuh image yang lebih modern dan luwes,” ujar Ardika.

Perlahan tapi pasti, sejak 2019, Jackhammer berpindah secara smooth dari nama yang mulai berubah menjadi Jackersfield dan logo gram yang semakin sering ditampilkan, sehingga bisa lebih familier. “Kita ubah dari sales channel dulu, karena ada algoritma dan cash investment sejak Q3 kemarin, nanti tinggal communication channel akan menyesuaikan di puncaknya,” jeasnya. 

10 Tahun, Jackersfield

Keukeuh memperkuat asosiasi hingga rebranding, hal ini tentu tak jauh-jauh dari ilmu bisnis praktis yang dirasakan Jackhammer sendiri.

“Pertama, konsisten itu paling pertama dalam banyak hal, dari desain, harga  dan dalam pemilihan strategi produk, kemudian relevan. Tapi tidak lupa bahwa mungkin addition market itu bisa juga purchase,” ungkap Ardika. Sebagai contoh, ia tak menyangka segmen wanita akan melakukan pembelian bagi pasangannya, sehingga keputusan rebranding akan menjadi lebih tepat dalam memperbesar basket size. 

Bermula dari logo gram dan logo teks, perlahan upaya rebranding Jackhammer kian digalakkan

Kedua, selalu komunikasikan brand dan perubahannya terutama kepada loyal customer, dan terakhir jangan takut untuk berkreasi. “Jackhammer enggak pernah terasosiasi dengan kota, sehingga kita membuat kota imajinasi yang namanya bitter spilled yang akan berkembang menjadi map, novel, komik. Sehingga konsumen enggak hanya membeli produk, tapi juga cerita,” ungkap Ardika.

Alumnus ITB tersebut menutup, “Asosiasi bisa membantu konsumen lebih relate dengan brand kita. Harapannya, rebrand menjadi Jasckersfield ini nantinya semakin menggambarkan segala aktivitas bekerja dan hobi sehingga semakin relevan dengan market.”

Gabriela Junisa Lasse

Gabriela Junisa Lasse

Add comment

Translate:

About Us

About Us

Our Main Website

Our Main Website
Translate »