Cerita Prasmul

Web BisnisPrasmulyan: Connecting Colleagues & Bringing Up New Businesses

Di masa kritis seperti sekarang, para pengusaha perlu menyusun ancang-ancang untuk dapat bertahan. Salah satunya yang tak kalah penting adalah mengokohkan koneksi dengan para supplier, kolaborator, hingga pelanggan potensial. Namun, sebagai bagian dari sekolah bisnis dan STEM pionir di Indonesia, bagaimana jika network yang luas itu dapat kamu peroleh bersama para alumnus, bahkan dengan akses yang praktis dalam satu genggaman?

Mempertegas Ciri Khas Prasmul lewat Cara Baru

Sudah sejak lama Universitas Prasetiya Mulya terkenal rajin melahirkan bisnis-bisnis ternama, sebut saja BLP Beauty, Eden Farm, Crowde, The Corator, dan masih banyak lagi. Namun, dibutuhkan pula satu atap yang mengumpulkan para pebisnis ini, untuk semakin mewujudkan kekhasan Prasmul, collaborative learning by enterprising. 

Itulah mengapa pada Sabtu (14/8) lalu, Universitas Prasetiya Mulya resmi meluncurkan web BisnisPrasmulyan, yang ditujukan sebagai database seluruh civitas dalam menjalankan usaha-usaha mereka. Dengan berbagai fitur untuk mengakses informasi usaha Prasmulyan, news, dan insight, mahasiswa dan alumnus dapat saling terhubung untuk membuat bisnis baru bersama, kerjasama supplier, co-branding, dan masih banyak lagi.

Menyajikan informasi seputar usaha para Prasmulyan dalam berbagai kategori, kunjungi web BisnisPrasmulyan di sini!

Fathony Rahman, DBA, dalam sambutannya juga mengatakan bahwa web BisnisPrasmulyan akan menjadi platform of engagement dari semua pihak, baik para alumnus yang memiliki bisnis, para mahasiswa yang ingin berbisnis, ataupun masyarakat umum yang ingin mendapatkan produk dan layanan Prasmulyan.

“Dengan lahirnya web ini, Anda semua bisa terkoneksi dan saling bersinergi membangun bisnis. Harapan kami, semua alumnus dapat terus mengembangkan diri dan juga memberikan kontribusi maksimal untuk komunitas dunia usaha.” 

Fathony Rahman, DBA

Walking the Talk, Talking About the Walk

Tak hanya prosesi launching yang meriah, para alumnus juga hadir untuk merayakan milestone ini dengan berbagi kisah sukses membangun bisnis mereka dalam talkshow bertajuk “Business Thriving in the New Normal”. Tema ini tentunya tepat untuk disuarakan. Sebab, bukan saja semua entrepreneur menghadapi tantangan besar yang sama, namun untuk memberikan encouragement kepada mahasiswa dan alumni yang akan membangun usaha, dibutuhkan sharing pengalaman nyata dari kakak tingkat yang berpengalaman.

Pembelajaran praktikal di Prasmul membuat tak sedikit alumnus yang sukses mengembangkan usahanya sendiri.

Di layar, sudah bersiap lima orang alumni program S1 dan MM Prasetiya Mulya. Mereka adalah Agus Purnomo Wibisono (Founder, IWA-KE), David Setyadi Gunawan (Founder & CEO, Eden Farm), Givari Rizky (Managing Director, AMBIZ), Michael Tanfebro (Founder, ENTREFINE), dan Wynn Nathaniel (CEO, Sinari Indonesia).

Satu hal yang ditegaskan oleh para entrepreneur muda ini adalah ketangkasan sebuah bisnis dalam memetakan masalah. Seperti halnya Michael yang menjadikan ENTREFINE sebagai studi kasus, dan membagikan kiat penting saat menjalankan bisnis di era krisis.

1. Dengarkan Pasar

Seperti ENTREFINE, di tengah kebutuhan manajemen data yang tinggi, bisnis Prasmulyan ini hadir sebagai penyedia sistem pengelolaan bisnis.

2. Bangun Kepercayaan Diri

Percaya tidak kalau rasa percaya diri punya andil besar dalam menjalankan bisnis di masa pandemi? Rupanya, kekhawatiran yang sering muncul, terlebih akhir-akhir ini, membuat banyak orang menunda langkah pertama mereka dalam memulai dan berinovasi.

3. Belajar dari Bisnis Lain

Tidak hanya berefleksi dari usaha sendiri, belajar dari bisnis lain dengan model bisnis yang serupa juga penting. Meski tidak 100% sama, ada saja hal yang bisa dipetik, ataupun detail kecil yang dapat menyelamatkan bisnis. Observasi bisnis lain juga menjadi langkah evaluasi awal dalam mencari perusahaan kerjasama.

4. Tanyakan ‘5 WHYs’

Dengan menelusuri ‘mengapa-mengapa’ dalam perusahaan, garis besar masalah pun tampak lebih jelas, dan dari sana banyak solusi yang dapat diambil.

5. Fokus pada Hal yang Ada

Lebih baik memuaskan 12 orang, semuanya, daripada punya klien 120 orang tapi tidak semuanya puas.”

Michael Tanfebro

Harus ada alasan yang kuat mengapa menyasar suatu kelompok konsumen. Contohnya, Michael menyasar orang-orang yang ingin berbisnis, namun belum berpengalaman atau butuh bantuan manajemen.

Jadi, apakah kamu menjadi lebih yakin untuk mengambil peluang dan membuat bisnis sendiri? Atau, sudahkah memperoleh inspirasi dari alumnus? Kunjungi web BisnisPrasmulyan sekarang juga, dan daftarkan usahamu di sana, ya!

Add comment

Translate:

About Us

About Us

Our Main Website

Our Main Website
Translate »