Cerita Prasmul

Berbisnis dengan Teman Dekat? Coba Pertimbangkan Hal-Hal Berikut!

Banyak anak muda bermimpi memiliki bisnis yang menghasilkan. Untuk memulainya, seringkali mereka dihalangi oleh berbagai keterbatasan yang belum mampu ditanggung seorang diri. Oleh sebab itu, memulai bisnis bersama teman, adalah salah satu langkah efektif.

Lingkaran pertemanan tidak jarang menjadi tujuan pertama ketika mencari rekan kerja. Mungkin kita sudah mengenal teman tersebut sejak masa sekolah, atau karena sering bertemu dan ngobrol, sehingga kita percaya akan kinerja ataupun karakter mereka.

Tapi jangan salah lho! Perlu ada sebuah rencana matang sebelum mengajak rekan berbisnis, bahkan bila itu teman sendiri. Felicia Regina, CEO dari Mirael Sugar Wax, mengutarakan seberapa pentingnya memiliki rekan yang tepat dalam berbisnis, dalam Awarding Night ECHO Masterclass 2021, pada Jumat lalu.

Bagi aku, memilih rekan bisnis itu sama pentingnya dengan memilih rekan hidup. Pasti kan, kalau kita punya partner, prinsip usaha kita long-lasting sampai bisa diturunkan generasi ke generasi.

Felicia Regina

Felicia mengutarakan lima prinsip yang harus kamu dan rekanmu pikirkan sebelum terjun berbisnis.

1. Buat List Hal Buruk Apa yang Terjadi Bila Berpartner, dan Tentukan Solusinya

Sebagai pebisnis muda, seringkali kita memiliki angan-angan tinggi, namun lupa dengan kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Berbisnis bersama partner, walaupun seorang teman dekat atau keluarga sekalipun, perlu memikirkan hal ini dengan sesama. Diskusikan masalah-masalah yang bisa saja kalian temui. Contohnya, ketika perusahaan ternyata membutuhkan suntikan modal lebih, solusi ketika salah satu partner tidak setuju dengan keputusan perusahaan, atau potensi konflik lainnya.

Perjanjian yang dibuat hitam di atas putih, kemudian hari akan menjadi acuan dan dasar apabila terjadi konflik.

2. Ketahui Nilai Prinsip Hidup Kamu dan Partner

Prinsip hidupmu dan partnermu bisa jadi beda. Kamu perlu mendetailkan nilai-nilai yang kamu junjung, dan menentukan partner yang sesuai dengan prinsipmu itu. Kalau kalian punya prinsip hidup yang bertentangan, bisa jadi kalian sering bertengkar, dan menghambat perkembangan usaha.

3. Mendiskusikan Ekspektasi Dari Partner Satu Sama Lain

“Apa sih yang kamu cari dari partner? Apakah kamu mencari orang dengan style komunikasi tertentu, atau kamu ingin partnermu selalu melaporkan pekerjaannya? Diskusikan sedetail mungkin ekspektasi masing-masing dari kalian itu apa,” jelas Felicia.

Ia menjelaskan bahwa selama kita dapat saling memenuhi ekspektasi, konflik internal dapat diminimalisir.

4. Pahami Peranan Masing-Masing dalam Perusahaan

Dengan pembagian peran yang jelas, semua pihak akan punya tanggung jawab masing-masing. Hal ini juga diseimbangkan dengan kesadaran bahwa semua pengambilan keputusan harus diikuti dengan baik. 

5. Pembagian Saham dan Opsi Keluar

Seiring berjalannya waktu, mungkin salah satu pihak akan menemukan hal lain yang lebih ia minati. Terkadang, hingga membuatnya memutuskan untuk berpisah jalan. Diskusikan juga solusi apabila hal ini terjadi. Misalnya, tentang pembagian saham yang sudah dimiliki.

Kelima pertimbangan tersebut, harus kalian diskusikan sebelum berpartner. Apabila kamu dan partnermu bisa memahami satu sama lain, perjalanan bisnis kalian akan jadi lebih terarah, dan konflik internal bisa lebih mudah ditemukan jalan keluarnya.


ECHO Masterclass merupakan proyek bimbingan bisnis intensif, di bawah Himpunan Mahasiswa Program S1 Business Universitas Prasetiya Mulya, ECHO Business Student Community. Menyediakan practical masterclass dan mentoring session seputar bidang operasional, pemasaran, dan financial , tahun ini ECHO Masterclass mengangkat tema “THE NEXT LEVEL,” dengan rangkaian acara berupa games simulasi bisnis dari 5 Maret hingga 16 April 2021.

Add comment

Translate:

About Us

About Us

Our Main Website

Our Main Website
Translate »