Cerita Prasmul
Saat Masih Mahasiswa, David Meraup Rp 500 Juta per Bulan, Kini Punya 3 Perusahaan

Saat Masih Mahasiswa, David Meraup Rp 500 Juta per Bulan, Kini Punya 3 Perusahaan

Sejak SMA, David William Silalahi memang sudah menargetkan karier berpenghasilan tinggi, yakni sebagai konsultan. Ternyata, Universitas Prasetiya Mulya masuk ke jajaran kampus penyumbang karyawan terbanyak di Big 3, bersanding dengan Ivy League serta kampus top Indonesia lainnya. Dari situlah, ia berkenalan dengan Prasmul hingga akhirnya menyerap banyak ilmu untuk bisnis-bisnisnya.

Jatuh Bangun? Wajar Dong!

Sebagai mahasiswa bisnis, pria yang pernah mencicipi karier di Sabre Corporation ini sudah dituntut untuk membangun usaha semasa kuliah, termasuk saat semester 4, “Saya mulai bisnis dari semester 4, waktu Business Creation, saya impor es batu stainless steel dari Cina dan saya jual di Indonesia, sejak itu udah mulai ngerti main consumer goods.”

Sayangnya, kondisi yang ia alami di 2015 tak semudah saat ini karena penjualan online masih sangat asing. “Tapi, waktu itu, penjualan barang lewat e-commerce belum populer, jadi orang masih lewat Kaskus sama Instagram biasa ya dan agak sulit buat promosiin produk yang terbaru,” David memperjelas.

Kegiatan David bersama komunitas

Kemudian, David mencoba peruntungannya bersama partner di bidang jasa. Mereka memutuskan untuk mendirikan sebuah barbershop. Anggota dari HIPMI JAYA ini menyadari bahwa pemasukan usaha barunya tersebut sangat kecil bila dibandingkan dengan pengeluarannya, “Setelah dijalanin, kok uangnya kecil ya, padahal modalnya gede, jadi akhirnya kita tutup karena nggak bisa di-scale up bisnisnya.”

‘Cuma’ Bisnis Tugas Akhir, Tapi Menarik Perhatian Investor!

David bersama keempat temannya mengambil langkah yang cukup berani ketika membangun bisnis sebagai syarat kelulusan. Alasannya, karena mereka tidak ingin bisnis ini hanya untuk tugas semata, tapi memang bisnis yang mereka jalankan kedepannya. “Kita bikin aplikasi dan waktu itu saya sudah komit sama partner kalau kita mau lanjutin karena saya nggak mau ini cuma sekadar buat lulus kuliah,” tutup David.

Keseriusannya ini berhasil menarik perhatian beberapa venture capital, salah satu diantaranya lulusan MM Prasmul. Sebagai sesama Prasmulyan, pria penggemar motor besar ini sudah percaya dan sepakat untuk gabung ke inkubator tersebut, “Akhirnya, kita disana diajarin cara dapet klien untuk model bisnis B2B, sesuai dengan bisnis saya yaitu aplikasi yang menggabungkan antara pemilik kendaraan, mostly taksi online, sama klien.”

David bersama staffnya

Setelah itu, ia berhasil mengakuisisi 1000 driver dan barulah mereka mulai mencari klien. Proses ini tidak terlepas dari dukungan network dari investor. “Karena kita mahasiswa, belum punya network kesana, kebetulan VC itu punya marketing agency, akhirnya dibantuin lah cari klien.”

Dalam enam bulan masa inkubasi, David bersama rekannya sukses mendapat empat klien senilai Rp 200 jutaan. Sayangnya, tak dapat dipungkiri, persaingan yang ketat, bukan hanya di industri, melainkan juga memperebutkan hati investor mendorong David untuk mundur. “Semua saingan saya pakai VC, jadi mereka siap bakal duit, meskipun saya sudah menyiapkan plan kedepan, saya masih kalah saing dibanding lulusan Ivy League dan mereka yang punya posisi tinggi di startup.”

Bertemu Partner yang Tepat

David bersama partner bisnisnya

Bak pepatah usaha tidak akan mengkhianati hasil, ia akhirnya bertemu dengan partner bisnisnya yang sekarang. Momentum pertemuannya pun tepat, David sedang mencari rekan yang punya modal besar sedangkan temannya mencari orang yang punya ide cemerlang, “Kebetulan, saya dan partner saya bisa melengkapi kelebihan dan kekurangan masing-masing, jadi match gitu.” Hingga akhirnya, bisnis pertamanya diluncurkan.

Spotless sebenarnya karya teman-teman kuliahnya untuk tugas akhir, tapi mereka memutuskan untuk tidak melanjutkannya karena satu dan lain hal. Berbeda dengan David yang justru melihat potensi produk ini. Tanpa membuang waktu, ia langsung mengambil langkah serius, “Saya hapus jasanya dan saya fokuskan ke produk karena berdasarkan pengalaman saya, produk lebih scaleable dibanding jasa, lalu saya bikin badan usaha, serta daftarkan merk dan invest.”

Sukses dengan brand pertamanya, ia mendirikan perusahaan baru, Prosper Ventura, yang berfokus untuk memberi suntikan dana ke bisnis di bidang consumer goods. “Di 2021, kita hunting ke beberapa kota, seperti Bandung dan Surabaya buat cari bisnis yang bisa di-invest,” ia memperjelas. Motivasi mereka tergolong mulia, memberikan kesempatan untuk non-tech company bisa meningkatkan bisnisnya, karena pada saat itu kebanyakan investor mengutamakan perusahaan berbasis teknologi.

Apabila ditanya tentang produk bisnis yang jadi kriterianya, anggota klub motor ini menjawab ada dua poin utama. Pertama, produk itu setidaknya laku di Amerika dan Cina sebagai trend maker atau di Malaysia sebagai negara tetangga yang tingkat adopsi teknologinya lebih tinggi.

“Kalau sebuah produk berhasil di Amerika dan Cina, 50% akan berhasil di Indonesia, kalau terkenal di Malaysia, 75% akan berhasil di Indonesia.” 

David William Silalahi

Nomor dua adalah kalau produknya sudah viral di Indonesia. “Lebih bagus lagi kalau sudah viral disini, berarti nggak perlu edukasi pasar lagi, tinggal invest ke brand yang bisa mengambil sebagian pasarnya.”


Bisnis model tersebut mengalami penyesuaian saat ini dimana David lebih nyaman membangun bisnis kecil sendiri yang didukung oleh perusahaannya, yaitu Your Chapter One, karena tidak semua founder memenuhi ekspektasinya. “Banyak yang mindset-nya masih pedagang, bukan pebisnis, mereka jual untuk makan hari ini bukan diputer lagi ke bisnisnya.” Bisnis barunya tersebut terbukti mendulang kesuksesan.

Add comment

Translate »