Cerita Prasmul

Fenomena “GIG ECONOMY”

Fenomena “GIG ECONOMY”

Oleh Isti Budhi Setiawati

Dosen S1 Business Economics

Universitas Prasetiya Mulya 

20160916_092454

Beberapa waktu lalu kita dihebohkan dengan fenomena access economy atau yang lebih dikenal dengan sharing economy. Walaupun di Indonesia keberadaan sharing economy sudah cukup lama (Toko Bagus, Kaskus, dan Nebengers merupakan beberapa contohnya), namun belum terlalu banyak masyarakat yang familiar dengan konsep ini. Sampai kemudian di tahun 2015 UBER, GO-JEK dan GRAB mendobrak pasar pada waktu yang hampir bersamaan.

Belum selesai euphoria masyarakat Indonesia dengan konsep ekonomi ini (sharing economy), telah muncul lagi konsep ekonomi baru yang dapat dikatakan sebagai respon atau akibat dari munculnya konsep sharing economy, yaitu gig economy.

Kita tidak perlu merasa sebagai orang yang kudet, karena ternyata berdasarkan survey di AS pada bulan Mei lalu, 89% masyarakat AS sendiri belum familiar dengan konsep gig economy ini sehingga kemudian Hillary Clinton mengusung konsep ini sebagai salah satu topik kampanye nya, walaupun Hillary sendiri lebih memperingatkan mengenai sisi gelap dari konsep ekonomi ini.

APA ITU GIG ECONOMY?

Dahulu, yang menggunakan kata-kata gig biasanya hanya musisi, yang artinya manggung atau dapat dikatakan sebagai pekerjaan yang temporary dan berdasarkan proyek atau kontrak. Serupa dengan konsep ini, gig economy adalah model ekonomi dimana para pekerja dan pelaku bisnis menggunakan sistem kontrak atau project bagi kegiatan bisnisnya. Sehingga sekitar 2-3 tahun dari sekarang, menjadi orang yang berubah-ubah pekerjaan dalam hitungan bulan merupakan hal yang biasa. Begitu juga kita sebagai pebisnis. Memiliki karyawan yang berganti-ganti merupakan hal yang biasa. Bahkan di satu waktu kita dapat memiliki karyawan yang berjumlah ribuan bila kita sedang memiliki beberapa project yang berjalan pada waktu yang bersamaan, namun besoknya kita hanya memiliki karyawan yang berjumlah tidak sampai 5 orang. Perkembangan gig economy tidak terlepas dari perkembangan sistem IT  yang semakin hari semakin menjadi salah satu komponen utama dalam suatu kegiatan bisnis.

Di negara barat sendiri, masih banyak yang meragukan tentang keberlangsungan konsep ekonomi ini. Beberapa hal yang menjadi concern adalah masalah hukum dan kesejahteraan tenaga kerja. Majalah Fortune terbaru membahas hal ini dalan artikel online dan hardcopy nya.  Wall Street Journal sebelumnya juga membahas gig economy sebagai ‘the new bubble of economy model’.

Terlepas dari pada saat ini masih sangat sulit untuk meramalkan bagaimana kedepannya perkembangan gig economy, namun konsep ekonomi ini sangat sesuai dengan perilaku dan jiwa generasi millennial yang menyukai tantangan dan menghindari hal yang bersifat statis. Huffington post bahkan mengatakan bahwa sebuah perusahaan sebaiknya menciptakan dan mengadaptasi konsep gig economy pada kegiatan bisnisnya untuk menarik dan mempertahankan karyawannya yang merupakan generasi millennial.

Nah, sebagai pebisnis yang nantinya akan memiliki karyawan, sudah siapkah kita dengan tantang ini?

(IBS)

Add comment

Translate:

About Us

About Us

Our Main Website

Our Main Website
Translate »