Cerita Prasmul

Beauty & Bounty: Dukung Industri Kecantikan yang Environmentally Friendly!

Masih ingat dengan konsep Doughnut Economics yang sempat dibahas pada ORBIT SERIES #1 CUBE 2021 yang lalu? Rupanya tak berhenti sampai di situ, Himpunan Mahasiswa S1 Business Economics Prasetiya Mulya, kembali membawakan topik baru yang tak kalah seru seputar sustainability: the beauty industry!

Selepas sukses melaksanakan pre-event Road to CUBE (Competition for University in Business and Economics) 2021 secara online, BEST Association hadir dengan rangkaian acara webinar dan workshop yang bertajuk ORBIT (Opportunity to Broaden Your Intellectual Capabilities) dari bulan Juli hingga Agustus 2021. Tema besar CUBE 2021 pun sengaja diambil dari isu krisis iklim dan kesejahteraan sosial kaum pekerja. Untuk rilisan ketiga kali ini, CUBE 2021 ingin menyelami industri kecantikan. Memangnya, apa pengaruh beauty industry dengan sustainability? Yuk, simak selengkapnya!

Duri dalam Daging

Packaging menjadi salah satu sumber polutan terbesar dari industri kecantikan.

Tak disangka, industri kecantikan berkontribusi besar dalam memroduksi limbah dan polutan. VICE UK menyebutkan, lebih dari 120 miliar kemasan produk kecantikan dibuat setiap tahunnya, dan membutuhkan sekitar 10 abad atau 1000 tahun untuk melalui proses dekomposisi. 

Proses manufaktur turut menyumbang polusi udara.

Tidak hanya sebatas packaging saja, bahan pembuatan produk kecantikan pun kerap dipermasalahkan. Kata ‘natural’ sendiri belum tentu baik, karena sekalipun dibuat dari bahan organik dan diambil langsung dari alam, proses pengambilan dan pengolahannya dapat saja mencelakakan lingkungan dan kesejahteraan orang-orang yang terlibat dalam proses produksi.

Untuk membahas hal itu, pada instalasi ORBIT yang ketiga ini dihadirkan para pembicara yang berkecimpung di industri kecantikan langsung sebagai case provider, seperti Business Unit Head Unilever Beauty and Personal Care Masstige (Love Beauty & Planet) Melinda Savitri, Co-Founder and Chief Commercial Officer of CarbonEthics Agung Bimo, dan Founder and CEO of Skin Game Michella Ham.

Perjalanan Kecantikan dalam Menekan Jejak Karbon

Krisis-krisis di atas, mau tak mau harus segera diatasi. Sebab apabila tidak, manusia sendiri yang dapat terkena imbasnya.

“The fact that we know that coral reefs are home to more than 25% of marine life. So when we see the coral is gone, the fishes there are gone as well. And how about the economy of the fishermen? It created a multiplying effect.” 

Agung Bimo L., Co-founder and Chief Commercial Officer of Carbon Ethics

Sebagai CCO dari CarbonEthics, pria yang akrab disapa sebagai Bimo tersebut juga menyebutkan berbagai macam keadaan nyata yang sedang terjadi di Bumi, seperti dasar laut mulai terkikis, terumbu karang yang rusak bahkan hilang, hingga laut yang tercemar asam dari zat-zat yang terbawa oleh sampah. Belum lagi menghitung sampah-sampah plastik dan kandungan mikroplastik dalam produk kecantikan, diperkirakan pada tahun 2050, setengah dari Jakarta sudah berada di bawah permukaan air laut.

Bimo pun berupaya menanggulangi krisis-krisis ini melalui berbagai aktivitas dan sosialisasi. CarbonEthics sendiri memiliki 3 jenis intervensi kepada perusahaan kecantikan dalam bidang lingkungan: mengedukasi masyarakat tentang jejak karbon dari kegiatan sehari-hari manusia, mengembalikan keadaan dengan cara alami seperti menanam bakau dan terumbu karang, serta melindungi elemen-elemen alam yang masih ada atau sudah direstorasi secara digital. 

Penanaman bakau merupakan salah satu langkah praktis yang dilakukan oleh CarbonEthics (Sumber foto: Instagram @carbonethics)

“If we can do it more, then why not? Because we do not have much time. We need to be fast to respond to the climate crisis.”

Then, What’s Next to Fix it?

Selain ketiga intervensi tersebut, Bimo membagikan tiga cara yang dapat dilaksanakan oleh industri kecantikan:

Reuse, Reduce, Recycle merupakan 3R yang mudah dimulai dari rumah.
  • Sustainable packaging: mengganti bahan kemasan menjadi terbuat dari bahan daur ulang atau ramah lingkungan
  • Sustainable sourcing transparency: menjadi transparan akan sumber daya yang digunakan
  • Community contribution: mengembalikan kebaikan dan meningkatkan kesejahteraan sosial para pekerja yang terlibat dalam proses produksi industri

Di samping mengandalkan corporate sustainability, Indonesia sebagai 1 dari 5 negara yang penduduknya paling banyak juga perlu mengedepankan awareness masyarakat akan isu ini. 

Terlebih Bimo menekankan, masih banyak orang yang belum memahami soal sustainability, atau ingin memelajarinya tapi takut maju karena orang-orang di sekitarnya menghakimi ketidaktahuan mereka. “Simple steps on how you can act is to educate yourself, choose wisely and start small, do it consistently, and educate others without judgment,” papar Bimo. 

Ingin tahu lebih tentang insight nyata industri kecantikan yang sedang terjadi di Indonesia? Buka kanal YouTube BEST Association untuk melihat rangkaian acara ORBIT Series #3 mereka secara lengkap!

Add comment

Translate:

About Us

About Us

Our Main Website

Our Main Website
Translate »