Cerita Prasmul
Mahasiswa Prasmul Kenalkan Es Puter ke Kompetisi Food Science Internasional

Mahasiswa Prasmul Kenalkan Es Puter ke Kompetisi Food Science Internasional

Dingin, harum, dan manis. Begitulah karakteristik es puter yang sudah akrab di hati masyarakat Indonesia. Unik, kristal es yang renyah digigit juga langsung meleleh ketika menyentuh lidah, meninggalkan  sensasi yang nikmat di mulut. Baik disajikan dengan cone atau mangkuk, es puter merupakan dessert yang dicari untuk menyegarkan diri ketika matahari sedang panas terik.

Kudapan tradisional tersebut dijadikan bintang utama oleh mahasiswa Prasetiya Mulya untuk kompetisi Food Science in Action (FSIA) 2019. Kompetisi pembuatan video ini diadakan oleh Institute of Food Technologist (IFT), Chicago, Amerika Serikat, dan telah memasuki tahun ke-5. Kali ini mengambil tema “Teaching and Learning Science Through Food”, video yang berhasil terpilih jadi finalis dipublikasi di kanal YouTube resmi dari IFT yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang sains dan teknologi pangan.

Ki-Ka: Irvan, Juni, Lakeshia, Catherine, dan Dana, lima Prasmulyan yang menjuarai kompetisi FSIA 2019.

Menjabarkan sains di balik pembuatan es puter, Lakeshia Erlino Kuswoyo, Catherine Trixie, Irvan, I Kadek Juni Saputra, serta Kadek Danayasa dari S1 Food Business Technology Prasetiya Mulya berhasil dinobatkan sebagai Juara II untuk FSIA 2019. Pemenang satu-satunya dari benua Asia, nama mereka tampil sederet dengan universitas top dunia seperti University of California Davis dan Cornell University. Begini suka-duka kisah mereka menuju kejayaan!

Mengenalkan Es Puter Pada Dunia

Sebelum memarkirkan pilihan pada es puter, kelima sekawan sempat mempertimbangkan beragam hidangan lainnya, seperti teh bunga telang, gulali, telur sunny side up, bahkan es cendol. Membahas santapan khas Indonesia, kekhawatiran mereka adalah respons warga internasional terhadap makanan yang “asing”. Sebagai solusi, tim ini mengirimkan dua video dengan topik berbeda kepada FSIA, yakni meringue cookies serta es puter.

“Sains di balik es puter tuh sangat luar biasa,” jelas Lakeshia. “Sejarahnya pun sangat menarik. Es puter dilahirkan saat zaman penjajahan Belanda, ketika masyarakat tidak bisa afford susu dan freezer. Mereka gunakan santan kelapa, terus dibekuin dengan es batu dan garam. Kok mereka bisa paham bahwa garam dapat menurunkan temperatur es batu? Kok mereka bisa se-kreatif itu?”

Dengan es puter sebagai main topic, kelima peserta membuat video yang bisa dimengerti oleh anak-anak. Selain menggunakan Bahasa Inggris sederhana, mereka juga mengundang adik Lakeshia yang berumur 10 tahun agar video dapat lebih mudah berkoneksi dengan target audience. Ternyata, kombinasi ini dengan keunikan makanan Indonesia sukses melontarkan video mereka menuju kesuksesan.

Mudah Mencari Support  

Tidak dibiarkan meraba-raba dalam gelap, tim ini menerima banyak bantuan dari kampus. Para Faculty Member (FM), termasuk Ibu Fransisca Wijaya, MTP, Dr. Ihsan Iswaldi, dan juga Pak Yalun Arifin Ph. D. yang menjabat sebagai Kepala Program Studi S1 Food Business Technology Prasetiya Mulya, terus memberikan bimbingan selama durasi kompetisi, misalnya dalam memperkaya informasi untuk script atau merevisi video.

Lakeshia bercerita, “Kami bolak-balik ke kampus untuk bertemu dengan FM. Malahan, kami sempat chat mereka beberapa kali via WhatsApp. Pokoknya kami sudah ngerepotin mereka banget, deh! Untungnya mereka sangat responsif.”

Walaupun berbeda jurusan, S1 Hospitality Business memberikan dukungan pada S1 Food Business Technology dengan meminjamkan Kitchen Lab.

Tak hanya dari jajaran Faculty Member S1 Food Business Technology, beban para kontestan semakin diringankan lagi berkat semangat kolaborasi yang ditanam di Prasetiya Mulya. Walaupun FSIA merupakan kompetisi food science, program studi S1 Hospitality Business Prasetiya Mulya turut memberikan dukungan dengan meminjamkan kitchen lab untuk melakukan tes masak serta pengambilan gambar. Selain itu, Bapak Muhammad Yusuf selaku chef profesional di Prasetiya Mulya secara konsisten mendampingi mereka selama proses shooting yang berlangsung tiga hari penuh.

“Sebenarnya, resep es puter yang kami pakai di video sudah dimodifikasi oleh Chef Yusuf,” kata Dana. “Dan rasanya enak banget!”

Perjuangan yang Terbayarkan

Tepat tanggal 22 April 2019 lalu, kala sedang begadang untuk mengerjakan tugas, Dana mendapatkan notifikasi email dari IFT. Membuka surat tersebut, ia membaca bahwa video meringue cookies mereka berhasil masuk 7 besar. Cukup bangga, ia klik tautan yang mengantarkannya ke halaman YouTube FSIA. Betapa terkejutnya Dana ketika melihat video es puter mereka juga lolos sebagai finalis, terlebih lagi diberi titel “2nd Place Winner”.

Wah, aku heboh banget, padahal masih capek karena begadang,” kenangnya. “Aku langsung telepon Catherine, Lakeshia, Irvan, dan Juni berkali-kali, nggak sadar kalau sudah subuh!”

“Ilmu sains dan teknologi pangan tuh keren banget!

Para pemenang langsung kilas balik perjuangan mereka selama berbulan-bulan. Mulai dari perundingan pertama melalui telepon yang tidak membuahkan hasil, proses shooting berulang kali yang menguras energi, serta segala percekcokan. Bukan sekali-dua kali, lima Prasmulyan tersebut mengaku banyak beradu mulut demi menghasilkan video yang terbaik, apalagi saat proses perampingan durasi video yang maksimal hanya 5 menit. Tetapi di sini soft-skill mereka ditajamkan, terutama dalam perihal teamwork serta time management.

“Kami harus terus bekerja keras walaupun lagi merasa unmotivated, melawan rasa capek,” ujar Catherine. “Tetapi di saat yang bersamaan, kami juga penasaran dan takjub. Sebagai maba (re: mahasiswa baru) di Food Business Technology, kami nggak pernah memikirkan sains di balik makanan sampai sedetail ini.”

Lakeshia menambahkan, “Selama ini aku kalau makan, ya makan aja. Setelah masuk Prasmul, aku jadi tahu bahwa ilmu sains dan teknologi pangan tuh sangat keren, terutama masakan Indonesia yang kelihatannya sederhana.”

Selamat Lakeshia, Catherine, Dana, Irvan, dan Juni atas kemenangannya di FSIA 2019. Bukan hanya mengharumkan nama Universitas Prasetiya Mulya, makanan tradisional Indonesia pun ikut dibuat tenar di kalangan internasional. Penasaran dengan hasil video mereka? Yuk, langsung tonton di bawah ini!

mm

Sky Drupadi

Add comment

Translate »