Cerita Prasmul
ICASTEM 2019: Pentingnya Meaningful Direction Dalam Berinovasi

ICASTEM 2019: Pentingnya Meaningful Direction Dalam Berinovasi

Bertemakan Innovation in STEM for Smart and Healthy Life, ICASTEM 2019 mengajak para akademisi untuk menjadikan inovasi sebagai perhatian utama dunia akademik. Mengapa demikian? Sebab, kini kesempatan untuk menciptakan kebaruan semakin terbuka berkat akses yang mudah terhadap teknologi. Namun dampak negatifnya, validitas metode yang berkembang di dunia IT menjadi sangat singkat, cepat berubah, dan mudah digantikan.

Berlangsung pada 30 dan 31 Oktober lalu, ICASTEM 2019 ingin menyampaikan bahwa tak cukup hanya ‘pesat’, kini inovasi dalam teknologi pun harus berkelanjutan. Melihat fenomena tersebut, ajang yang berlangsung di Universitas Prasetiya Mulya ini mengundang Prof. Roberto Verganti (penulis buku ‘Overcrowded’) untuk membagikan perspektifnya mengenai Design Driven Innovation. Dalam keynote presentation-nya, Prof. Verganti menjelaskan tentang pentingnya mindset baru untuk menciptakan inovasi yang bermakna dan dicintai konsumen. 

BLINDED BY IDEAS

If we are blinded by darkness, we are also blinded by light

Annie Dillard

Kutipan Annie Dillard tersebut mengawali sesi Prof. Verganti. Ia memulai presentasi dengan mengibaratkan dunia sebagai ‘ruang’ gelap tanpa cahaya. “Dahulu, keterbatasan teknologi membuat ide sulit diakses. Alhasil, sebuah ide yang muncul akan dinilai sebagai ‘bola lampu’ yang menerangi ruang gelap— menerangi dunia,” ungkapnya.

Ia lalu mengajak audiens untuk membayangkan jika di ‘ruangan’ itu, terdapat ribuan bahkan jutaan ‘bola lampu’. Alih-alih membantu, cahaya yang dihasilkan akan menyulitkan kita untuk melihat. Itu lah yang dimaksud Prof. Verganti sebagai blinded by light: Situasi di mana manusia kesulitan untuk melihat dan menemukan The Big Idea— ide yang mampu mengubah duniameski ia terus-menerus terekspos beragam ide baru.

“Sekarang, ide adalah komoditas,” jelasnya. Adanya perdagangan ide, menurutnya, menyebabkan terdapat lebih banyak teknologi dari jumlah yang manusia butuhkan. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan baru: Apakah ide dan inovasi masih diperlukan?

IDEAS & INNOVATIONS ARE NEEDED, BUT…

Ide dan Inovasi masih sangat penting untuk mengisi gap antara kebutuhan manusia dan perkembangan teknologi. “Kita membutuhkan tiga mindset yang memungkinkan kita berinovasi di dunia yang dibanjiri ide,” terang penulis buku Overcrowded tersebut.

  1. Inovasi adalah tentang mencari makna yang baru
    Dibandingkan membuat solusi yang ‘lebih baik’ dalam menyelesaikan permasalahan konsumen, lebih baik mulai ciptakan hal yang memiliki ‘makna baru’ bagi konsumen. Seperti yang dilakukan Fujifilm, misalnya. Alih-alih mengutamakan produksi kamera canggih, Fujifilm justru mengembalikan tren kamera instan melalui produk Instax agar pengguna bisa membagikan foto yang diambil kepada orang lain. 
  2. Mulai dari dalam diri
    Jika biasanya sebuah perusahaan berinovasi berdasarkan feedback konsumen (outside-in), Prof. Verganti menyarankan inovator masa kini untuk merancang produk berdasarkan idenya sendiri (inside-out). “Konsumen tidak selalu mengerti apa yang mereka inginkan,” ungkapnya. “Justru tugasmu adalah untuk membuat mereka jatuh cinta pada produk yang tidak diduga.”
  3. Kritik sangat diperlukan
    Kritik dapat mencegah inovator terjebak di tempat yang semakin lama tidak relevan lagi. Dalam presentasinya, Prof. Verganti menjelaskan, “Inovasi tidak berkelanjutan muncul bukan karena kesalahan inovator, namun karena perusahaan atau individu terus melakukan hal yang ‘benar’ secara terus-menerus.”

International Conference on Applied Science, Technology, Engineering, and Mathematics (ICASTEM 2019) merupakan konferensi internasional yang diorganisir oleh School of Applied STEM Universitas Prasetiya Mulya. Berlangsung pada 30-31 Oktober 2019 di Kampus BSD, konferensi ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang lebih dalam mengenai STEM.

Witha Shofani

Add comment

Translate »