Cerita Prasmul

Elisabeth Revy : Dinamis Hadapi Digitalisasi dengan Openness to Learn – Alumni Success Story

Mengintip perjalanan profesional seorang Elisabeth Revy, yang tampak adalah jejak karier seorang marketer di berbagai sektor, industri, hingga model bisnis. Turut merasakan gerusan pergerakan digital yang belum pernah dihadapi sebelumnya, bagaimana Senior Marketing Manager sekaligus Founder Kopi Sobi ini, terus berhasil mempertahankan jenjang karier lintas industri? Mari bersua dengan Revy!

Perjalanan Panjang Menemukan Passion

Sempat mengawali karier di broker insurance namun belum merasakan bidang tersebut sebagai passion-nya, pembelajaran di MM Regular Prasetiya Mulya menjadi tempat berlabuh ibu dari dua anak ini. Lewat konsentrasi Manajemen Pemasaran, lulusan S1 Ekonomi di Universitas Trisakti ini menemukan kecintaan awalnya terhadap marketing. Pungkasnya, “Banyak study case dan Faculty Member yang memberikan pengetahuan baru, dan dari situ timbul perasaan, ‘This is what I love’.” 

Namun, tanda tanya besar muncul ketika apa yang dirasakannya ketika berkarier di bidang marketing berbeda dari dinamika yang dinikmatinya dalam studi magister. “Dari Career Day, saya mendapat beberapa tawaran kerja sebelum lulus dan memilih PT. Toyota Astra Motor,” kata Revy. “Tapi untuk marketing di industri otomotif, kok rasanya saya tidak se-antusias seperti waktu kuliah dengan Prof. Sidik dulu ya, sampai nulis jawaban tuh bisa satu kertas nambah terus sangking semangatnya.” 

Dari situ, perjalanan menjelajah berbagai posisi dan industri dimulai, dari posisi Brand Associate di PT. HM Sampoerna Tbk, kemudian Product Category Manager di The Body Shop, tawaran di e-commerce, hingga akhirnya berpindah ke bidang yang sangat baru, yakni seputar mainan anak-anak. “Menggali  insight dan memikirkan strategy launch plan dari produk mainan waktu itu buat saya jatuh cinta dengan dunia toys,” ungkapnya.

Setelah 5 tahun berkutat di dunia toys, jiwa challenging mendorong  Revy untuk memperluas pengalaman marketing-nya di dunia hiburan dan media entertainment, melalui The Walt Disney Company, di divisi Consumer Products. Ia mengungkapkan, “Disney kategorinya banyak,, target marketnya mulai dari anak-anak, teenagers, hingga dewasa. Sehingga saya berpikir kesempatan belajar yang baru lagi, nih.

Meski perlu keluar dari zona nyaman dan belajar industri yang baru, dari situ pecinta kopi ini lebih memahami bidang dan industri yang tepat baginya. “Walaupun kesannya gonta ganti industri, sebenarnya benang merahnya masih for the love of marketing, dan ternyata yang paling cocok bagi saya adalah dunia anak-anak dan keluarga,” pungkas Revy.

So far saya enjoy banget ngomongin tentang pekerjaan saya sehari-hari karena selalu ada new challenge dan banyak momen bertemu dengan orang-orang baru dari berbagai industri.

Dinamika Digitalisasi Marketing

Meski merasa enjoy dengan profesinya tersebut, sifat pemasaran yang fluid tentu memaksa pegiatnya untuk terus beradaptasi. “Di Disney, definitely I’m not the youngest,” ungkap Revy. Padahal, ia perlu menciptakan strategi marketing untuk menyasar teenager dan young adult. “Kalau semuanya berdasarkan ide saya saja, pasti tidak akan selalu relevan” sambungnya.

Dinamika karier dengan rekan lintas generasi menjadi sarana pembelajaran utama Revy

Itulah mengapa, meski menduduki level Senior Manager sekalipun, wanita yang senang membagikan postingan tanamannya di akun @revyhomeplants ini kerap menganggap dirinya sebagai generasi milenial cross border yang perlu belajar banyak seputar tren marketing terkini. Revy menyampaikan, “Kalau misalkan mau buat marketing campaign, dalam tahap ideation yang turunannya ke digital atau online saya banyak menggali insight dari team millennials di kantor, karena mereka merupakan core target market dari campaign yang targeted ke anak muda”

Kita memang harus berani belajar dari siapapun, tidak hanya dari para leader tapi juga dari younger generations.”

Sleain itu, keterbukaan untuk belajar juga mendorong Revy untuk mengamati tren digitalisasi pasca pandemi yang dirasa akan berlangsung permanen. Ia berbagi, “Saya lihat digital marketing ini akan terus berlanjut. Walau sudah cukup tahu basic-nya, saya rasa masih belum cukup sehingga saya coba cari short courses yang bisa dilakukan di sela pekerjaan.” Bahkan alumnus yang sempat menyandang status ketua acara Malam Keakraban MM Regular ini pun saat ini belajar mendalami dunia e-commerce, yang sedang growing di Indonesia. 

Belajar kayaknya nggak ada kata berhenti, terutama di di dunia marketing yang harus selalu inovatif dan bergerak maju.

Kunci Menghadapi Masa Depan

Revy menyadari, perjalanan kariernya masih panjang, dan masih ada masa depan yang tak pasti menanti. “Saat pandemi membuat semua harus bisa tweak dan adapt ke digital, pasti ada proses adaptasi, tapi bisnis harus tetap running,” ungkap Revy. 

Dari situ kita tahu, digital marketing activation is the key

Hendak membagikan kunci kesiapannya menghadapi digitalisasi yang akan berlanjut, wanita yang bercita-cita menikmati hidup lewat usaha kopi-nya ini berbagi tiga poin penting dari kisahnya, terlebih kepada para marketer.

  • Never stop learning dari setiap sosok hingga kesempatan, secara formal maupun informal. 
  • Jangan tertutup dengan ideation dari siapapun. “Marketer nggak boleh happy dengan yang sudah dicapai, tapi harus kreatif setiap saat,” ungkap Revy. Jika saat ini strategi marketing Anda sukses dengan pemanfaatan teknologi Augmented Reality atau digital marketing content, kompetitor bisa dengan mudah mereplikasi sehingga harus selalu berpikir one step ahead
  • Asah strategic thinking. Yang terpenting bukan saja menciptakan konsep atau ide cemerlang, tapi merefleksikannya ke dalam objektif hingga ROI. “Karena at the end of the day you have to bring sales to the table.”
Gabriela Junisa Lasse

Gabriela Junisa Lasse

Add comment

Translate:

About Us

About Us

Our Main Website

Our Main Website
Translate »