Belajar Kreatif Dari Pengalaman Masa Kecil | FM Article

 

Oleh M. Setiawan Kusmulyono
Ketua Program Studi S1 Business Universitas Prasetiya Mulya

“Kok kalau mau kreatif harus jadi anak kecil?”
“Kenapa?“
“Nanti malah kelihatan childish (kekanakan)”
“Ga mau ah…”

Eitss.. jangan salah paham dulu dengan makna di atas. Coba kita nostalgia sejenak. Kembalikan pikiran kalian ketika zaman kecil dulu, yuk!.

Hampir semua anak kecil pasti ingat momen ketika mereka belajar naik sepeda roda dua. The struggle is real, remember that?  Untuk bisa melaju kencang dengan sepeda roda dua, usahanya juga harus kencang, bahkan kadang sampai jatuh dan terluka. Belum pernah kita mendengar ada anak yang “ujug-ujug” jago naik sepeda tanpa pernah jatuh.

Kalau sudah tahu jatuh itu sakit bahkan kadang sampai berdarah, kenapa sih anak kecil tetap melanjutkan belajarnya? Nah, inilah kunci sebenarnya, dimana rasa keingintahuan dan keberanian mereka lebih besar dari ketakutan yang ada. Kalau saat ini kalian punya adik kecil, berbanggalah jika adik kalian terlihat aktif dan eksploratif, karena disitulah mereka belajar membentuk karakter yang tangguh.

“Untuk bertindak kreatif, berpikirlah seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan berupaya untuk mengeksplorasi hal-hal yang belum diketahuinya”

Sayangnya, semakin kita dewasa, maka ketakutan untuk menghadapi sesuatu yang tidak kita kuasai semakin besar. Kita tidak seberani dahulu, bahkan tidak sedikit yang tergerogoti oleh rasa takut yang berlebihan. Contoh sederhananya, ketika sudah dewasa dan belum dapat menyetir mobil, maka ketika mulai belajar, di pikiran kita sudah muncul macam-macam kekhawatiran. Alhasil, kemampuan untuk menyetir mobil hanya tinggal impian.

Level kekhawatiran kita meningkat tajam ketika kita makin dewasa. Hal inilah yang kemudian membatasi kita untuk dapat bertindak kreatif, sebab kreativitas itu dibuktikan dengan tindakan, tidak hanya ucapan saja. Jadi, ketika kita tidak berani untuk melakukan suatu tindakan dengan suatu alasan, maka secara otomatis, level kreativitas kita sudah menurun tajam.

Oleh karena itu, tips untuk bertindak kreatif, berpikirlah seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan berupaya untuk mengeksplorasi hal-hal yang belum diketahuinya. Bertingkah seperti anak kecil bukan kepada manjanya mereka, namun lebih kepada tindakan berani untuk mencooba sesuatu yang baru. Beruntungnya, Prasetiya Mulya mewadahi seluruh mahasiswanya untuk tumbuh dalam kreatifitas dan critical thinking. Acara seperti Entrepreneur Day, Creatifest hingga Creation menjadi contoh nyata sokongan Prasmul dalam meningkatkan kualitas insan dan komunitas bisnis di Indonesia.

Kreasi Bisnis di Creatifest 2015:  Matchachi menyajikan varian teh hijau dalam berbagai jenis makanan & minuman
Kreasi Bisnis di Creatifest 2015: Belajar bercocok tanam bunga matahari lewat Soul Plant

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kreasi Bisnis di Entrepreneur Day 2017: Gema, amplifier yang terbuat dari 100% bambu
Kreasi Bisnis di Entrepreneur Day 2017: Wakken, sebuah alarm inovatif, dengan menghadirkan sentuhan audio dan visual

 

 

 

 

 

 

 

 

Jadi, mulailah untuk mengingat apa yang dulu dilakukan saat kecil dan membawa perasaan itu kembali saat ini. Jadilah seorang pemberani yang siap untuk mengeksplorasi tantangan apapun tanpa pernah mundur sebelum pertandingan dimulai. Take risks & conquer your fears, Prasmulyan. Salam Wirausaha! (*Editor: VIO)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *