Cerita Prasmul

Woman in Charge: Summer Breakery, Mother, and Nada Promotama

Dari banyak event yang gue buat ataupun jalani, baik sebagai penyelenggara ataupun sebagai panitia, noted this! Buatlah event yang ngasih impact ke audience dan sekitarnya

Sarikha Kartika Ayu, Alumnus S1 Event 2015.

Berbekal pengetahuan event planning dari semasa kuliah, mungkinkah seseorang menerapkannya pada hobi mereka? Tentu saja bisa, buktinya, Sarikha Kartika Ayu berhasil melakoni ketiga gelar dan menyalurkan ilmu-ilmunya dalam pengalaman di bidang event, usaha bakery yang ia bangun, bahkan kegemaran di dunia balap mobil.

Apa saja perjalanan yang sudah dilalui salah satu alumnus S1 Event angkatan pertama ini?

2016 Drive in Time: Konsep ‘Vintage’ di Dunia Modern

Sarikha Kartika Ayu, Alumnus S1 Event 2015

Pernahkah Prasmulyan membayangkan dan ingin merasakan kehidupan di tahun 80-an, bagaimana caranya? Menggunakan mesin waktu? Tentu mustahil.

Drive in Time hadir mengajak siapapun yang ingin bernostalgia atau sekadar merasakan suasana di era 80-an, dengan pemutaran film klasik di parkiran Prasmul yang didukung dengan komunitas mobil kuno, jadul, dan vintage, membuat suasana 80-an menjadi lebih real.

Ini project yang paling berkesan sih menurutku, karena masih di tahun awal kuliah, semester 2 atau 3 gitu, tapi event-nya berjalan lancar dan sampai mendapat sorotan media,” ujar Sarikha.

Siapa sangka ide ‘Drive in Time’ yang sempat tenggelam ini kembali bangkit pada 2020, di mana masa pandemi membatasi orang untuk menikmati film kesayangan, tapi akhirnya bisa menonton di kendaraan pribadi mereka.

Menjadi Event Planner di Nada Promotama: Menjembatani Brand Internasional dan Event Lokal

Bekerja dengan tetap merawat anak merupakan tantangan besar untuk Sarikha

Menjadi ibu tidak menghalangi alumni yang hobi futsal ini untuk berkelana di dunia karier. “Jadi, waktu masuk ke Nada Promotama sebagai event planner, aku request untuk WFH karena kebetulan mau ngurus anak,” cerita pecinta musik yang pernah bekerja di PT Musica Studios tersebut.

Sarikha juga membagi beberapa pengalaman berkesan sebagai perancang acara. Proyek besar di lahan yang terkenal atau bahkan produk internasional pernah jatuh di tangannya, “Sebagai event planner, project terakhir yang gue pernah handle adalah brand vape dari Tiongkok, namanya JOIWAY yang saat itu berpartisipasi di Jakarta International Vape Expo. Kesan terbaik, karena menyusun planning-nya dari nol.”

Tidak semulus jalan tol, ada juga kendala yang harus dihadapi si wanita multitasking satu ini, sebab berhalangan untuk hadir langsung di lapangan. 

“Salah satu kesan yang membekas adalah karena bisa membuat concept dari nol untuk isi acara di dalam booth, sampai akhirnya di-approve sama JOIWAY dan dijalankan di event. Tapi karena kerja gue harus mobile dan nggak bisa datang ke event langsung, gue akhirnya hire orang untuk jalanin di sana.” Orang tersebut, tak lain dan tak bukan, adalah Chloe, adik kelas Sarikha. Sekalipun pendekatannya tidak biasa, tanggung jawabnya tetap berjalan dan terlaksana. Sarikha juga menyebut, komunikasi menjadi elemen utama dalam pekerjaan. “Pastiin brief jelas, mulai dari isi acara, sampai brief MC-nya gimana. Karena yang pegang konsep tetap gue,” tuturnya.

Partisipasi Sarikha tidak sekadar sampai sana. Pada 2018, tepatnya ketika Asian Games diselenggarakan, Sarikha turut turun tangan sebagai relawan pra-acara INASGOC di bagian sponsorship, dan ia tidak hanya berkutat di bidang itu saja. Salah satu pengalaman berkesannya juga meliputi pekerjaan lain: merias!

Sarikha dalam Asian Games 2019

“Aku juga sempat membantu di bagian make up waktu itu. Bukan make up-in, tapi bantu kru backstage, seperti kostum untuk penari opening ceremony,” baker dan girlboss yang pernah berhelat di Indonesia Sentul Series of Motorsport (ISSOM) 2019 tersebut bernostalgia.

Merencanakan konsep acara selagi duduk di rumah memberikan tantangan tambahan bagi pecinta fashion satu ini. “Memang berat, karena kita harus bisa membayangkan vibe atau rasa apa yang akan diberikan ke audiens nanti. Bikin konsep event itu emang jadi sebuah pengalaman tersendiri,” sebut Sarikha.

Summer Breakery: From Passion to Pastries

Toko kue yang dimiliki oleh Sarikha, Summer Breakery, memiliki cerita spesial tentang namanya. “Itu ceritanya kan waktu lagi summer break, terus aku memang hobi masak nih, jadi aku masak dan coba jual ke temen-temen deket.”

Juni, Juli, Agustus, adalah tiga bulan musim panas di negara empat musim bagian utara. Tiga bulan tersebut juga adalah periode waktu libur murid-murid Indonesia, yang dimanfaatkan Sarikha sebagai jam operasional.

Banyak feedback positif dari orang sekitar, sehingga kepikiran pengen ngelanjutin, tapi waktu itu karena sibuk-sibuknya dan sesuai namanya yang mengandung unsur ‘summer break’ dijual lah waktu liburan, sekitar Juli-Agustus.

Meski kecil-kecilan, akhirnya lama-lama menjadi bukit dan bekal Sarikha dalam berbisnis. Kesibukan sekolah lewat, dan masa perkuliahan tiba. Banyaknya waktu luang mendorong Sarikha untuk makin merawat bisnisnya yang ditempuh semenjak SMA. Ini juga menjadi awal bagi Sarikha berjualan online.

Race on Sunday, bake on Monday. Ingin mengetahui Sarikha lebih jauh? Sapa melalui akun Instagram-nya, yuk! 

1 comment

Translate:

About Us

About Us

Our Main Website

Our Main Website
Translate »