Cerita Prasmul

Skin Game: Dari Acne Warrior Jadi Skincare Lokal Superior! – Success Story Michella Ham

Apakah kamu salah satu yang merasa kalau obat jerawat di pasaran cenderung membuat kulit iritasi? Menyadari brand luar negeri masih dibutuhkan, tapi permasalahan availability, orisinalitas, hingga sulitnya jastip tampak menjadi kendala bagi banyak orang? Jika ya, kepekaan melihat masalah seperti itu dapat mengantarmu menjadi seorang future entrepreneur, seperti kisah Michella Ham dalam membangun Skin Game berikut ini!

Wanita Muda dengan Visi Menjadi Entrepreneur

Selain senang memerhatikan kesehatan kulit terutama wajah, alumnus S1 Branding Prasetiya Mulya ini memang sudah bercita-cita merintis bisnis. Terlebih lewat ambience kewirausahaan di Prasmul, mulailah Michella mencari permasalahan di sekitar, dan menemukan yang paling dekat dengannya: obat totol jerawat di pasaran masih membuat kulit merah dan kering. “Mau pakai skincare merek luar pun kadang susah didapetin, harus nitip teman kalau lagi ke luar negeri, karena belum available di Indonesia,” ujarnya. 

Notice bahwa beauty industry juga berkembang pesat di awal tahun 2019, saat itulah Michella menjawab keluhannya sendiri dan wanita lainnya, lewat inovasi bernama Acne Warrior, obat jerawat yang lembut dan cocok bagi kulit sensitif, serta diberi merek Skin Game.

“Ternyata skin care lokal aku ini cukup diminati masyarakat karena banyak yang merasa kualitasnya bagus, harganya cukup terjangkau, dan mudah untuk didapatkan kalau dibandingkan dengan merek luar,”  terang Michella.

Perjalanan Menjadi ‘Girl Boss’

Meskipun sudah passion, tetap butuh kedisiplinan dan keuletan untuk bisa mencapai titik keberhasilannya saat ini, terlebih jika memiliki modal awal yang terbatas. Beruntungnya, melalui kelas Operation Management di Prasmul, Michella mengerti bagaimana menentukan persediaan dan supplier yang paling efisien.

“Untuk menyesuaikan dengan budget yang terbatas, aku mulai dari cari supplier lokal dengan Minimum Order Quantity (MOQ) yang rendah dan harga terjangkau. Seiring berjalannya waktu kalau modalnya sudah bertambah barulah kita upgrade,” ujar Michella.

Selain operasional, tentu muncul pertanyaan, “Bagaimana dengan basic manajemen, Michella menciptakan formulasi skincare yang maksimal?”. Rupanya, terdapat mindset yang tetap membuatnya optimis, yaitu mencari partner dan berkolaborasi. 

Teringat, prinsip ini serupa dengan kutipan Michael E. Gerber dalam buku “The E Myth: Why Most Small Business Don’t Work”, yakni bahwa asumsi terfatal dari seorang pengusaha adalah memulai bisnis dari hal teknis. Artinya, terkadang pengusaha hanya mau memulai bisnis dari apa yang mereka kuasai, dan tidak menjadikan kolaborasi sebagai solusi hingga pada berakhir dengan tidak memulai apa-apa.

Sebagai pebisnis, kita nggak harus ahli di semuanya. Kalau ada bidang yang kita kurang, cukup solve dengan mencari mitra atau partner kerja yang memang ahli di bidangnya.

Skin Game terpilih menjadi “Best Acne Treatment” oleh Female Daily Best of Beauty Award 2020 (Sumber foto: Instagram @michellalh)

Ingin Mulai Bisnis? Ini Tips Michella!

Merintis semuanya dari nol, wanita yang juga merintis komunitas @indobeautyrecord ini menyadari pahit manisnya membangun bisnis seorang diri. “Yang challenging sih ketika aku akhirnya harus hire tim untuk handle beberapa hal, apalagi brand yang aku bangun sendiri ini kayak anak aku,” guyon Michella.

Usai sukses menempuh studi di Universitas Prasetiya Mulya, Michella sudah bercita-cita untuk menjadi entrepreneur. (Sumber foto: Instagram @michellalh)

Meski demikian, kepercayaan dan delegasi adalah kunci agar tim bisa ter-empower untuk mengembangkan usaha, kemudian diikuti oleh disiplin diri sendiri. “Disiplin ini nggak cuma anti-procrastinate, tapi dalam hal finansial harus benar-benar misahin tabungan usaha dan pribadi, dan stick to it,” ungkap Michella. “Plus, nggak boleh berhenti belajar dari buku, kursus, ataupun sesimpel scrolling Instagram untuk hal bermanfaat dan ngobrol bareng tim,” lanjutnya.

Ke depannya, Michella sendiri sudah membidik Skin Game untuk expand produk yang lebih beragam. Ia berpesan, “Dalam konteks beauty industry, walau kompetisinya makin ketat, menurutku belum terlalu terlambat kalau kamu mau terjun di situ, karena selama kamu punya identitas brand yang unik dibandingkan yang lain, pasti bisa compete.”

Add comment

Translate:

About Us

About Us

Our Main Website

Our Main Website
Translate »