Cerita Prasmul

Sangat Diincar, Ternyata Ini Rahasia di Balik Matematika Bisnis

Matematika tak cuma menghitung luas bangunan atau menghafal rumus trigonometri. Apabila diaplikasikan ke dalam dunia bisnis dan keuangan, matematika dapat memprediksi risiko masa depan dan mengidentifikasi probabilitas yang merugikan perusahaan.

Hal tersebut yang menjadi rutinitas Bapak Oktaviyanto, Business Analyst dan Branch Manager di Gojek Indonesia, serta Bapak Ronald Sajuti, Head of Actuary di Fairfax-Panin Indonesia. Keduanya diundang dalam talkshow Actuarial Science Day 2020 yang diadakan oleh S1 Business Mathematics Universitas Prasetiya Mulya pada Sabtu (31/10). 

Actuarial Science Day diadaan setiap tahun oleh S1 Business Mathematics Universitas Prasetiya Mulya.

Walaupun dituntut menguasai matematika, mereka berdua mengaku bahwa bidang ilmu lain seperti keuangan, marketing, customer behaviour, hingga komputasi sangat diperlukan untuk menunjang kariernya. 

“Data is data, angka is angka. Kalau tidak dikombinasikan dengan ilmu yang lain atau pengalaman di lapangan, data itu juga tidak akan bermakna apa-apa,” sebut Pak Okta. 

Menyelamatkan Perusahaan

Matematika dapat menyelamatkan perusahaan. Sebagai contoh, Pak Okta dan timnya pernah menemukan pola yang tidak wajar pada suatu merchant. Terjadi kenaikan penjualan secara drastis dan tidak normal. 

“Awalnya kita mau cari tahu apa yang menyebabkan angka mereka naik, apa yang buat mereka berhasil? Tujuannya kalau mereka memang punya strategi khusus, kita mau copy ke area-area lainnya,” tutur Pak Okta. 

Pak Okta menggunakan matematika untuk mengindentifikasi ketidakwajaran pola dalam perusahaan.

Selidik punya selidik, ternyata timnya malah menemukan bahwa oknum merchant tersebut melakukan kecurangan yang dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan dan mitra merchant lainnya. Begitu mendapatkan temuan ini, pihaknya segera melakukan tindak lanjut. 

Pak Ronald punya pengalaman yang mirip. Menurutnya, “Dalam perusahaan asuransi, ada klaim-klaim yang sudah direncanakan. Misalnya, mobilnya sudah rusak sejak awal. Kita sebagai actuary, kita melacak itu dari data. Ada beberapa parameter yang kita tentukan sehingga bisa menemukan kecurangan itu.”

Oleh karena itu, profesi sebagai aktuaris ataupun business analyst sangat dibutuhkan oleh perusahaan. “Manajemen itu kalau mau ambil keputusan, itu tanyanya ke kita,” imbuh Pak Ronald. 

Profesi Incaran

Kompensasi profesi yang diterima Pak Okta dan Pak Ronald tidak main-main. Menurut Pak Okta, selain dari sisi nominal gaji, profesi ini membuatnya punya pengetahuan yang holistik ke mana suatu perusahaan akan bergerak. Selain itu, peluang kariernya pun masih membentang luas. 

Ilmu matematika dapat beradaptasi di berbagai macam bisnis.

“Kita tinggal adaptasi ke jenis bisnis yang lain aja. Kita jadi punya sense yang lebih baik kalau nanti teman-teman mau menjalani usaha sendiri,” sebut Pak Okta. 

Pak Ronald menambahkan, saat ini jumlah fellow actuary di perusahaan asuransi umum hanya berkisar 50 orang, sedangkan jumlah perusahaan asuransi di Indonesia ada 78. Artinya, profesi ini menjadi incaran perusahaan. “Kita yang 50 ini ibaratnya udah kayak pemain sepakbola, ditransfer sana-sini,” guyonnya. 

Melihat Matematika sebagai Sebuah Puzzle 

Pak Okta dan Pak Ronald mengakui bahwa profesi mereka mensyaratkan penguasaan matematika secara matang. Meskipun sangat penting, faktanya matematika kerap kali menjadi momok menakutkan bagi sebagian besar pelajar di sekolah. Karena itu, Actuarial Science Day 2020 mendatangkan Jerome Polin untuk berbagi strategi menaklukkan matematika. 

Siapa yang tidak mengenal sosok Jerome Polin? Mahasiswa S1 Matematika di Jepang yang satu ini aktif memproduksi konten mengenai cara mudah belajar matematika di medsos. Saat hadir sebagai bintang tamu dalam Actuarial Science Day 2020 pada Minggu (1/11) lalu, Jerome mengaku sebenarnya dulu ia tidak suka matematika. 

Jerome Polin menjawab problem matematika layaknya bermain puzzle.

Dalam kesempatan itu, Jerome lantas membagikan rahasianya agar bisa mencintai pelajaran hitung-hitungan ini. Salah satunya, dengan melihat matematika sebagai sebuah puzzle atau games

“Dulu aku suka banget puzzle atau kayak labirin. Kadang-kadang kita akan buntu. Kalau buntu, kita pasti akan cari jalan lain. Karena kita anggap itu seru, jadi kita akan terus coba sampai ketemu. Mamaku bilang bahwa aku harus bayangin matematika kayak gitu,” sebut Jerome. 

Ia mengajak teman-teman yang masih duduk di bangku sekolah untuk tidak takut berlebihan dengan matematika. Pasalnya, setiap bidang industri pasti membutuhkan perhitungan. Selain itu, ada nilai-nilai lain yang dapat dibentuk, misalnya kegigihan mencari solusi ketika mendapati masalah dalam kehidupan sehari-hari. 


Actuarial Science Day 2020 merupakan acara tahunan yang diadakan oleh S1 Business Mathematics, School of Applied STEM, Universitas Prasetiya Mulya. Tahun ini merupakan tahun keempat penyelenggaraan Actuarial Science Day 2020 sekaligus menjadi tahun pertama perhelatannya secara online. Ajang ini terdiri atas workshop, talkshow, hingga kompetisi terkait aktuaria dan aplikasi matematika dalam lingkup keuangan dan bisnis. 

Add comment

Translate:

About Us

About Us

Our Main Website

Our Main Website
Translate »