Cerita Prasmul

Program Doktor bagi Praktisi Bisnis? Henky dan Paulina Berbagi Cerita

Sudut rumah putih yang menjadi background pertemuan virtual kala itu seolah menemani  perjumpaan awal Ceritaprasmul dengan Henky Lesmana dan Paulina Lo, partner bisnis yang kini bersama mengampu Program Doktor Manajemen dan Kewirausahaan Prasetiya Mulya.

Menjadi Partner Bisnis

Potret kebersamaan Henky dan Paulina.

Perjalanan menjadi rekan bisnis dimulai tatkala Henky dihadapkan pada business plan, tugas akhir sebagai mahasiswa MM Executive pada 2001. Mengajak Paulina, yang merupakan alumnus MM Regular, keduanya membangun perusahaan yang bergerak dibidang medical conference organizer. “Itulah yang menjadi cikal bakal PT Pro-Health International, yang kami bangun hingga sekarang,” pungkas Henky.

Bagi mereka, membangun usaha merupakan never ending journey, sebab ada saja masalah yang dihadapi. Untungnya, lingkungan sinergis di Prasetiya Mulya memberikan kesempatan yang luwes untuk berkonsultasi dengan para praktisi. 

“Kalau saya sudah pasti nggak bakal kemana-mana,” ungkap keduanya dengan lantang. Henky menjelaskan, “Berkat hubungan cair dengan Faculty Member, kapan pun kami bertanya pasti akan dijawab dan bahkan diberi advice, sehingga motivasi belajar lebih baik.” 

Prasetiya Mulya boleh saya bilang sekolah terbaik di Indonesia, bukan hanya dalam hal knowledge dan skill, tapi juga budayanya.

Henky Lesmana

Alhasil, berbekal ilmu dan kerja keras keduanya, bisnis yang sudah dijalankan selama 20 tahun tersebut kini telah berkembang menjadi 3 perusahaan yang terus bertumbuh. 

Bagaimana Lanskap Bisnis 20 Tahun Lagi?

Meski sudah layak dikatakan sukses berbisnis, keduanya tak puas dengan pencapaian masa kini. Justru, mereka berfokus pada apa yang perlu dipersiapkan untuk masa depan.

“Saya berpikir, masa depan akan seperti apa, ya?” pungkas Henky. Ia menyadari bahwa akademik yang diampunya 17 tahun lalu telah berubah seiring perkembangan industri. “Saya ingin punya bayangan, supaya bisa mulai mencampur dan meramu strategi menghadapinya.” 

Di satu sisi, keinginan memperoleh competitive advantage sebagai pebisnis turut muncul dalam benak Paulina. “Orang pintar itu banyak, tetapi tak banyak yang mau mencapai level edukasi tertinggi,” ungkapnya.

Dikuatkan kembali dengan keinginan memberikan teladan bagi anak-anak, serta pertimbangan reputasi profesional perusahaan, akhirnya keduanya mantap mengampu Program Doktor Manajemen dan Kewirausahaan pertama di Indonesia. 

Program Doktor dari Sudut Pandang Praktisi

Banyak yang mengira bahwa gelar doktor hanya identik dengan akademisi, namun pengalaman Henky dan Paulina berkata lain. Fenomena (fenomenologi) yang terjadi dalam lingkup bisnis ternyata dapat didekati secara ilmiah, bagaimana teori-teori terkini terutama dari jurnal-jurnal ilmiah dapat diterapkan ke dalam perusahaan mereka.

“Di tempat lain mungkin berbeda, tetapi di Prasetiya Mulya kami dapat mengaplikasi pembelajaran “kelas” ke dalam organisasi kami,” ungkap Paulina. “Ketika Prof. Agus berbagi seputar co-creation of values, itu kami presentasikan kembali, share dengan karyawan, dan modifikasi seusai relevansinya dengan praktik bisnis kami.” 

Merasa memperoleh akses terhadap fenomena baru industri, kedua mahasiswa yang menduduki jabatan C-Level ini sangat mendukung hadirnya lulusan doktor jempolan yang semakin banyak di Indonesia. 

Jika ada semakin banyak peneliti di Indonesia, semakin banyak pula invention yang akan membuat negara menjadi lebih maju.

Paulina Lo

Enjoy the Process

Bagaimanapun, kedua partner bisnis ini percaya bahwa keberhasilan yang mereka peroleh adalah hasil dari edukasi formal yang telah diampu bersama. 

“Ketika kita punya knowledge, skill, apalagi dikembangkan dengan analytical thinking, kita bisa mengantisipasi, memformulasikan, dan meraih masa depan agar hidup menjadi jauh lebih baik,” kata Henky.

Hal ini pun sama dengan yang dipikirkan Paulina, “Mungkin seseorang bisa menguasai bisnis dari trial and error, tapi menurut saya perkembangannya lambat, dan solusinya kurang terstruktur.” 

“Seperti saat pandemi, jika hanya berdasar pada pengalaman, pengusaha bisa mentok karena bukan sesuatu yang pernah dilalui,” sambung Paulina. “Dengan kuliah S3 ini, banyak hal baru yang didapat selama pembelajaran dikelas serta review jurnal-jurnal ilmiah yang membuat keterampilan analisis semakin tajam, akhirnya edukasi itu sebetulnya gerbang yang membuka lebih banyak opportunity.”

Menutup perjumpaan kala itu, Henky berpesan bahwa gelar S3 bukanlah sebuah self-pride, melainkan kebutuhan.

Pendidikan doktor itu bukan saja membuka wawasan untuk semakin inovatif, tetapi sekaligus menjawab pertanyaan praktikal sehari-hari sebagai eksekutif profesional.

Mendukung perkataan Henky, Paulina mengatakan, Walau klise, tapi buat saya gelar itu bonus, karena I like the journey.

Sehingga sebelum mengambil S3, mantapkan dulu motivasi dan komitmen, kemudian pilihlah institusi yang juga sesuai.

Gabriela Lasse

Gabriela Lasse

1 comment

Translate:

About Us

About Us

Our Main Website

Our Main Website
Translate »