Cerita Prasmul

Michael Tanfebro: Keep Pushing Yourself Toward Success – Alumni Success Story

Citra anak muda yang erat dengan semangat belajar dan berproses sangat cocok dengan sosok Michael Tanfebro. Lulusan S1 Business Prasetiya Mulya ini telah mencicipi banyak pengalaman di dunia profesional sebagai buah dari kerja kerasnya. Mulai dari Gojek, Traveloka, Bukalapak, hingga membuat startup sendiri bernama Tutor Aja dan Entrefine. Mari berkenalan lebih akrab dengan Michael!

Pernah Kalah? Justru Bagus untuk Karier!

Michael dan team Business Creation


Perjalanan karier Michael yang lulus pada 2018 ini mungkin terlihat mulus. Namun, ada banyak jatuh bangun yang tidak terlihat sebagai proses berkembangnya.

Mengingat masa kuliah, ia mengaku sangat antusias mengikuti berbagai kompetisi. Sebanyak 31 lomba sudah menjadi batu loncatan Michael untuk meraih mimpinya.

Mungkin definitely bukan yang menang paling banyak, tapi yang ikut paling banyak. Selama gue kuliah, dari 31 (yang diikuti) yang menang itu 11.”

Michael tidak masalah mengalami kegagalan. Justru, menurutnya kekalahan itu bisa menjadi peluang bagus karena bisa membuka pikiran dan memacu lebih baik.

Terbilang perlombaan yang Michael ikuti berada di berbagai level, mulai dari level regional, nasional, hingga global. Growth mindset adalah pola pikir yang tertanam di laki-laki asal Semarang ini. 

“Kalau lomba yang ini bisa menang, kita akan cari yang lomba tinggi. Kalau kita kalah kita akan push ourselves harder.

Pola pikir untuk selalu mencoba ‘naik kelas’ ini juga Michael terapkan ketika mengembangkan pekerjaan sampingannya ketika masa kuliah.

Beranjak dari rasa ingin mendapat uang tambahan, Michael membuka jasa mengajar untuk adik kelas dan teman satu angkatannya. Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya permintaan, Michael berpikir untuk menambah tutor yang bisa membantunya. 

Satu demi satu, guru yang bergabung dengan Michael bertambah. Dari yang tadinya hanya jasa mengajar personal, kini berkembang menjadi startup mikro bernama Tutor Aja.

At that point kita grow dari dari 9 tutor, itu gue masih ngajar sendiri di tahun pertama. Di tahun kedua gue jadi 60-an dan tahun terakhir, last year gue masih aktif di sana around 150 tutor. Dan I think muridnya around 2.000.”

Professional and Entrepreneur, Why Not Both?

Pertanyaan yang lumrah ditanyakan oleh mahasiswa adalah, ‘lebih baik jadi profesional dan entrepreneur, ya?’

Melihat jejak karier Michael yang sudah tiga tahun terjun ke dunia kerja, ia telah merasakan dua bidang tersebut: sebagai profesional di korporasi besar dan sebagai pendiri start up. Menurut Michael, ada dua perbedaan besar dari menjadi seorang profesional dan entrepreneur.

Yang pertama terkait risiko. Risiko yang dipegang saat menjadi profesional cenderung lebih kecil daripada saat menjadi entrepreneur. Poin kedua adalah ownership, tentunya rasa keterikatan dengan bisnis sendiri dan bisnis milik orang lain berbeda. Tapi, Michael menyampaikan bahwa tidak ada yang benar dan salah dalam memilih jenjang karier. 

“Gue nggak bilang semua orang yang lulusan business harus punya business, it’s not true. Orang yang bekerja secara profesional bisa kok pada akhirnya merintis bisnis sendiri.”

Juga, menjadi profesional juga bisa memberi peluang untuk belajar langsung dari ahli-ahli lainnya.

Gue ngerasa waktu kita kerja fokusnya nyari uang aja. But in reality it’s not that way. We should keep learning. Kalau di point of view gue, apapun yang kita lakukan setelah lulus, tetaplah belajar. Karena our value is not going to stop waktu kita udah kerja,” ujar mahasiswa yang lulus dengan honor graduate ini.

Lalu, buat kamu yang bertanya : “Gimana sih cara untuk mendorong diri sendiri agar terus menggali peluang dan kompetensi?’

Lihat tips dari Michael ini!

  • Buang unproductive time!
    Lihat screen time di ponsel kamu. Apakah kamu banyak menghabiskan waktu untuk bermain sosial media, tapi tanpa esensi atau manfaat yang baik? Yuk dikurangi! Kamu bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk melakukan hal-hal lain yang membuahkan manfaat untukmu.
  • Bergaul dengan siapa saja
    Cari teman baru dan kamu bisa menemukan perspektif baru. Dengan seperti ini, kamu bisa memiliki rasa empati yang tinggi. Kamu juga bisa mendapat ilmu ketika bergabung dengan circle baru, lho. Jadi, kalau kerja kelompok, jangan sama teman yang itu-itu saja, ya!
  • Be a giver, not a taker
    Kalau kamu mau menjadi orang yang bisa membantu orang lain, tentunya kamu harus memiliki pengetahuan yang lebih banyak. Oleh karena itu, rasa ingin membantu ini juga bisa menjadi motivasimu untuk semakin rajin belajar, lho!
  • Stop debatin realita!
    Setiap orang punya kondisi masing-masing. Jangan dibanding-bandingkan dan fokus pada dirimu sendiri! Kenali kekuranganmu apa dan kerja keras untuk bisa overcome kendala itu.

Add comment

Translate:

About Us

About Us

Our Main Website

Our Main Website
Translate »