Cerita Prasmul

Lebih Dekat dengan Social Enterprise di FINference 2020

Mencari profit sebanyak-banyaknya sekaligus memberi dampak sebesar-besarnya kepada masyarakat bukan tidak mungkin dilakukan oleh seorang pengusaha. Dalam dunia bisnis, model usaha seperti ini dinamai dengan social enterprise atau kewirausahaan sosial. 

“Menyelesaikan masalah-masalah sosial dengan cara-cara bisnis, itulah social enterprise,” sebut Ibu Veronica Colondam, Pendiri Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) saat diundang sebagai pembicara dalam  webinar FINference 2020 yang diadakan oleh S1 Finance & Banking Universitas Prasetiya Mulya pada Sabtu (28/11) lalu.

FINference 2020 mempertemukan para ahli untuk membahas mengenai social enterprise.

Ibu Vero tidak sendirian. Bersama-sama dengan jurnalis senior sekaligus pendiri BenihBaik.com, Bapak Andy F. Noya, mereka berbagi cerita dan pengalamannya berbisnis sekaligus memberdayakan masyarakat. 

Bukan Sekadar CSR

Menurut Ibu Vero, social enterprise tidak sama dengan aksi sosial atau CSR yang rutin dilakukan perusahaan. Pembeda terbesarnya adalah pada model bisnis. Pada social enterprise, misi sosial menjadi basis atau ide sebuah usaha. Dengan demikian, semakin bertumbuh suatu bisnis, semakin besar pula dampak yang akan terasa. 

Sunyi merupakan salah satu coffee shop rintisan mahasiswa Prasetiya Mulya yang mempekerjakan teman-teman disabilitas.

Sementara itu, CSR merupakan kegiatan yang sengaja dianggarkan oleh perusahaan sebagai bentuk tanggung jawab moralnya kepada lingkungan dan masyarakat. Artinya, misi sosial tidak menjadi satu kesatuan dengan misi bisnis yang dijalankan. 

“Contoh seperti coffee shop yang mempekerjakan teman-teman disabilitas bisu tuli. Semakin buka cabang, semakin banyak coffee shop yang dia buka, semakin banyak pula difabel yang akan direkrut,” sebut Ibu Vero. 

Pak Andy menambahkan bahwa tren bisnis ini sudah terbaca oleh banyak anak muda. Hingga saat ini, semakin banyak bermunculan jenis bisnis baru yang basisnya merupakan social enterprise

“Banyak sekali sekarang contohnya. Tapi point-nya adalah, kalau kita ingin berdampak bagi lingkungan kita, bagi kaum perempuan, anak putus sekolah, petani, nelayan, peternak, penyandang disabilitas, dan seterusnya, kita enggak harus berbentuk yayasan. Kita bisa kelola dalam satu unit usaha,” ujar Pak Andy. 

Bekal Utama Social Enterprise

Tidak dapat dimungkiri, funding atau pendanaan adalah aspek mendasar dalam menjalankan social enterprise. Oleh karena itu, Ibu Vero memaklumi apabila dalam tahap inisiasi, misi sosial berdiri terpisah dengan misi perusahaan. 

“Kalau nyari duitnya sendiri, enggak ada hubungan dengan misi juga boleh. Sudah bagus dia mau bagi profitnya untuk misi. Tapi itu masih one point zero. Kita mau move on ke three point zero dengan embedded model,” sebut Ibu Vero, merefleksikan beberapa tahun silam saat ia mendirikan social enterprise

Waktu itu, perusahaan dan yayasan yang ia kelola berdiri terpisah. Namun, seiring berjalannya waktu, kini keduanya sudah menjadi satu kesatuan.

Selain dari faktor finansial, Ibu Vero juga menyebut dua elemen lainnya yang tidak kalah penting supaya membuat social enterprise menjadi bisnis yang berkelanjutan, yakni dengan kolaborasi dan adopsi. 

Jika belum memiliki ide bisnis berbasis misi sosial, social enterprise bisa dilakukan dengan berkolaborasi.

Artinya, apabila merasa belum mampu menemukan ide atau inovasi bisnis yang berbasis pada misi sosial, seseorang bisa berkolaborasi dengan orang lain supaya menjadi lebih solid dan kuat. Kemudian, apabila sudah berkembang, pelaku social enterprise dapat mengupayakan dampak yang lebih luas, misalnya dengan bermitra dengan pemerintah atau organisasi internasional agar model bisnisnya bisa diadopsi dengan skala yang lebih luas. 

Pak Andy menambahkan, yang tidak kalah penting saat mendirikan social enterprise adalah unsur passion atau panggilan hati. 

“Harus ada calling dulu. Kalau kita enggak punya calling, enggak jalan nih. Calling itu adalah keseriusan kita dan pengorbanan. Enggak melulu uang, tetapi waktu, perasaan, itu pengorbanan,” ungkap Pak Andy. 


FINference merupakan ajang tahunan yang diadakan oleh S1 Finance & Banking, School of Business and Economics, Universitas Prasetiya Mulya. Rangkaian acara ini terdiri atas workshop, seminar, dan festival yang bertujuan untuk memberikan wawasan terkini dalam dunia bisnis, ekonomi, dan keuangan serta kaitannya dengan Sustainable Development Goals. Tahun ini, meski diadakan secara online, FINference 2020 berhasil mendatangkan lebih dari 30 pembicara profesional di bidangnya, seperti Hamish Daud, Glory Oyong, Vania Firtryanti, dan Dr. Aviliani.

Add comment

Translate:

About Us

About Us

Our Main Website

Our Main Website
Translate »