Cerita Prasmul

Jadi Musisi ‘Tuk Salurkan Emosi – Passion Antonius Kenny Sebagai Performer

Istilah “music heals” ternyata ada bukan dengan alasan percuma, bahkan peneliti saja setuju kalau musik dapat menyalurkan dan juga menyentuh emosi manusia. Antonius Kenny (Prasmulyan S1 Branding 2020) juga menjadi salah satu penampil yang memercayai ini – yuk, simak tentang hobi Kenny di bidang musik!

Musik di Televisi dan Visi Hidup

Antonius Kenny, Mahasiswa S1 Branding 2020

Bisa dibilang, Antonius Kenny sudah menunjukkan bakat dan ketertarikan musiknya sejak kecil. Bermula dari tontonan program musik di televisi, orang tua pemuda yang akrab dipanggil Ken ini menyadari minat bidang seni putranya.

“Dulu waktu masih kecil tuh kan sering nonton MTV, aku sering ikutan nyanyi kalau ada band atau lagu yang lagi diputar,” laki-laki asal Jakarta Barat itu berkilas balik pada masa kecilnya. “Akhirnya, sama orang tua aku disuruh les vokal.”

Ken yang saat itu juga tidak keberatan pun menurut. Ia memelajari olah vokal hingga sekarang mampu mengunjukkan suara emasnya di berbagai kesempatan, bahkan menjadi salah satu jalur Ken untuk jadi financially independent. Dan tidak hanya berhenti di vokal, ia juga mengembangkan talenta musiknya di berbagai instrumen.

Terus kayaknya kok kurang deh, belajar piano juga. Mulai dari situ belajar piano dan vokal.

Bisa Semua, Kecuali…

Berangkat dari mengasah bakatnya sejak kecil, Kenny yang juga suka ngopi bersama teman-teman mulai memperluas kelihaiannya. Semasa SMP, ia tergabung dalam orkestra sebagai seorang cellist atau pemain cello. Di sana ia menemukan banyak pemusik di spesifikasi lain, seperti flute, French horn, oboe, dan klarinet. Walaupun tidak mendalami seperti ia belajar keluarga strings, diantaranya cello dan biola, Kenny dapat menyebut dirinya menguasai dasar-dasar yang baik, berkat sharing dari teman-temannya. 

Di samping mencoba keluarga woodwind yang disebutkan tadi, sang mahasiswa penyuka Vespa tersebut juga menguasai saxophone. Namun, ada satu instrumen yang sangat dekat dengan Ken, tetapi malah tidak dikuasainya.

Fun fact, aku udah pernah belajar banyak sekali instrumen kecuali gitar,” aku pemuda tersebut, setengah bergurau setengah serius. “Walau dari dulu circle-nya sama temen yang main gitar, aku tetap nggak bisa ngerti gitar.”

Circle yang dimaksud adalah bandnya, The Corner. Bersama dengan William dan Matthew, Ken tampil di berbagai kesempatan, seperti di panggung acara-acara besar ulang tahun atau pernikahan, atau sekadar tampil di kafe.

Jadikan Musik Pembelajaran

Ternyata, musik tidak cuma menjadi kesenangan saja, tetapi juga menjadi pembelajaran untuk Ken yang tengah menyukai genre neo-funk, soul, progressive, progressive rock, dan R&B. Ada tiga hal yang ia pelajari dari bermusik:

  • Musik = Emosi
    Menurut vokalis The Corner ini, musik adalah emosi dan alat yang sangat powerful untuk mengatur emosi.

    “Musik ini sebenarnya hebat. Aku sadar kalau dalam tangan orang yang tepat dan juga dimainkan dengan tepat, seseorang bisa memengaruhi psikologi dan mengubah emosi dasar mereka. Semisal ada yang lagi sedih, kita bisa naikkan mood orang itu dengan musik,” papar Kenny.

  • Jangan sungkan bertanya
    Ketika dihadapkan dengan miskomunikasi di salah satu penampilannya, Ken tidak segera berpikir tentang kerugian—ia mengarahkan dirinya sendiri pada mindset baru:
    Pelajaran yang bisa diambil itu jangan malu, mungkin nggak perlu banyak berbasa-basi untuk hal-hal yang khususnya menyangkut hak kita. Harus straight to the point dan detailed,” tegas Ken, yang juga aktif di SAC Blue Tone.

  • Cari ritmemu dalam kehidupan
    Alias, time management. Ken sendiri setuju kalau ini salah satu hal yang sulit untuk dicari titik balance-nya.

    “Sebenarnya kalau dibilang, menyulitkan sih, karena jadi padat jadwalnya. Hahaha. Tapi in a way, membantu di time-management, menyesuaikan waktu. Biasanya aku latihan habis kuliah gitu. Selesainya juga nggak terlalu malam, jadi biar nggak capek banget. Syukur-syukur selama ini belum pernah perform saat weekdays, paling Jumat atau Sabtu. Jadi besoknya walaupun exhausted tetap bisa istirahat karena bukan hari kuliah. Karena nge-gig gini adalah hobi aku, dan kuliah juga kewajiban. Jadi harus dijalankan secara selaras.”

Add comment

Translate:

About Us

About Us

Our Main Website

Our Main Website
Translate »