Cerita Prasmul
Hubert Tatra: Belajar dari Socrates, Apple Academy, dan Proyek Tugas Akhir

Hubert Tatra: Belajar dari Socrates, Apple Academy, dan Proyek Tugas Akhir

Proses ada untuk dinikmati, setidaknya begitu kata Hubert Tatra. Lulusan angkatan 2017 prodi S1 Digital Business Technology (Software Engineering) ini menceritakan perjalanan pendidikan tinggi dan karier, pengalaman di Apple Academy, hingga tugas akhirnya!

The More You Learn, The More You Know Nothing

The only true wisdom is in knowing you know nothing.

– Socrates
Hubert Tatra, Alumnus S1 Digital Business Technology 2017

Petuah dari filsuf Yunani tersebut menjadi satu pegangan Hubert dalam mendalami bidangnya. Sejak SMA, alumnus yang suka bermain musik ini masuk ke dalam dunia coding dan memutuskan untuk menjadikannya sebagai jalur karier.

Semula dihadapkan dengan dua pilihan universitas dengan jurusan yang sama, pilihan Hubert jatuh ke Prasmul. “Pertama, Prasmul tuh basisnya sekolah bisnis. Jadi menurut kurikulum di sana, kita tuh nggak hanya diajarin tekniknya seperti apa, tapi juga gimana cara ngejual sesuatu (inovasi) yang udah dibikin.” Dengan cara dan metode yang tepat, ia yakin kemampuan coding tidak akan sia-sia dan menjadi lebih “marketable”. Alasan kedua adalah karena ia juga dipercayai kemampuannya dan mendapatkan beasiswa Young Scholar Indonesia. Inilah awal dari segalanya – dimana semua keterampilan Hubert diuji dan diasah sebagaimana Socrates pernah berkata.

“Perspektif gue dari 8 tahun lalu saat belajar coding dengan 4 tahun lalu saat masuk ke Apple Academy beda. Semakin ke sini, kalau ditanya coding itu apa, gue akan jawab nggak tahu apa-apa, karena itu yang bikin kita semakin banyak melihat hal-hal yang ga pernah disentuh sebelumnya,” papar Hubert. Menurutnya, manusia ibarat sistem operasional. “Justru kalo nggak pernah update system, ga pernah update keilmuan, kemungkinan besar error-nya dari diri sendiri.”

Tasting the Big Apple

Selama berkuliah, Hubert juga mengembangkan dirinya di luar kelas di Prasmul. Ia juga menjadi salah satu mahasiswa yang mendapatkan kesempatan untuk menyicipi proses kerja dan cara berpikir salah satu perusahaan besar di bidang teknologi, yaitu Apple.

Di Apple Academy, pemuda yang sedang menekuni olahraga golf ini belajar menjawab kebutuhan user secara mendasar. “Kita cari causal root-nya seperti apa. Contoh, orang sakit kepala. Apple nggak mau kasih solusi kasih obat saja, tapi juga cari tahu yang bikin sakit kepala apa. Misalnya ternyata sering kena hujan setiap hari. Daripada dikasih obat saja, bukannya lebih baik dikasih jas hujan? Ini solusi yang Apple mau.”

Selama sembilan bulan, 3 bulan pertama Hubert belajar coding secara intensif, diikuti dengan 6 bulan di bidang riset. Di dalam ruang kerja Apple yang mengamini ungkapan Steve Jobs, “Think Different”, Hubert belajar banyak. Bahkan, ia bercita-cita mendirikan akademi sendiri, yang berbasis lokal.

Di Apple, kita pakai framework challenge based learning. Cukup rumit sih, tapi intinya, kerangka berpikir kita nggak boleh dibatasi. Harus open terhadap semua kemungkinan, jangan membuat asumsi di awal. Based on evidence, based on supporting facts.

Hubert Tatra

Memori Manis Tugas Akhir 

Hubert dan tim Introductory Program ketika masih maba

Kalau orang-orang biasanya memandang tugas akhir sebagai garis finish yang menguras seluruh tenaga dan pikiran, Hubert malah menyebut tugas akhirnya menjadi bagian paling asyik dan berkesan selama kuliah. Padahal, tugas akhir ini sendiri menjadi sebuah proses yang menantang karena mahasiswa STEM juga harus menguasai segi bisnis, di samping memikirkan teknis proyek mereka. 

“Kita ingin memodernisasi peternakan ayam,” cerita sang Kepala Divisi PR SISO angkatan pertama. Motivasinya tiba dari melihat fenomena peternak ayam yang masih sangat tradisional. Kebanyakan peternak masih mencatat log kegiatan dengan papan tulis. Inilah yang ingin diubah dan didigitalisasi. “Misalnya ayam masuk berapa, mati berapa, kapan dia ga bertelur lagi, hari ini cuma bertelur berapa, ayamnya udah dikasih makan atau belum. Itu kan satu proses, tapi terpisah-pisah tuh. Dan rumit banget. Dengan bantuan app, para peternak nggak perlu ngurusin business-as-usual. Mereka bisa fokus cari customer, ngembangin peternakan ayam, dan menjual produk peternakan.”

Huruf A rupanya tidak menjadi singkatan dari “akhir” dan “asyik” saja, tetapi menjadi nilai yang diberikan terhadap pemikiran Hubert dan kawan-kawan.

Add comment

Translate »