Cerita Syita: Weddingpreneur Sukses Yang Mengedepankan Etos Kerja | Amaya Wedding – Bisnis Alumni Prasmul

“Sosok Syita Sophiaan (Alumnus S1 Business Prasmul angkatan 2006) memiliki dua hobi yang ia gemari sedari kecil, yaitu minat berbisnis dan senang berbincang dengan banyak orang. Ia tak menyangka bahwa dua talenta tersebut berpengaruh besar dalam menghantarkannya menjadi sosok womenpreneur yang sukses nahkodai lebih dari satu bisnis.”

Singkat cerita, setelah lulus dari Prasmul di tahun 2010, Syita lantas bekerja di satu perusahaan lifestyle & fashion ternama di ibukota sebagai Business Development. Di akhir pekan, Syita menghabiskan waktu liburnya untuk menjadi freelancer di industri event khususnya Wedding Organizer (WO). Perkenalannnya dengan dunia WO lantas membuatnya jatuh cinta. Yakin bahwa bergelut di bisnis wedding adalah passion-nya, Syita cukup berani dan gesit mengambil peluang, sehingga pada 2010 ia mendirikan Amaya Wedding yang hingga kini masuk dalam jajaran Wedding Planner & Organizer yang diperhitungkan dalam industri ini.

Syita Sophiaan dan Amaya Wedding

Dibalik suksesnya seseorang, selalu terselip kisah menarik untuk dipelajari dan disimak. Perjumpaan tim ceritaprasmul.com dengan Syita kali ini banyak membawa insight menarik bagi Prasmulyan yang punya angan menjadi womenpreneur dikemudian hari. So, keep on reading Prasmulyan!.

 

Q: Halo Syita, boleh diceritakan ke Prasmulyan sekilas tentang kesibukannya saat ini?

Halo teman-teman, saat ini saya sedang asyik menggeluti profesi sebagai weekend worker. Hari-hari saya dihabiskan untuk menjalani dua bisnis yaitu Amaya Wedding dan Praya Party Supplies. Keduanya sama-sama bergerak di bidang event, Amaya Wedding sendiri menawarkan jasa Wedding Planner dan Wedding Organizer, sementara Praya yang saya bangun dengan dua alumni Prasmul juga, yaitu Lidya dan Tina dari Jurusan Finance, bergerak di bidang penyewaan kursi tifanny.

Salah satu grand wedding yang diogranisir oleh Amaya Wedding
Praya Party Supplies menyediakan jasa penyewaan tifanny chair

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Q: Dalam menjalani bisnis Amaya Wedding, tipe leadership seperti apa sih yang Syita terapkan?

Saya sangat tegas dan perfectionist banget kalau sudah mulai proyek. Saya selalu mengajak tim untuk pay attention to detail seperti misalnya kalau ada kabel yang ga rapih harus segera diberesi, karena di jasa WO ini kami dibayar untuk mewujudkan perfect day-nya klien, dan disitulah saya banyak mencontohkan sikap tertentu ke team dibanding mendikte. Leader juga menurut saya harus punya kepekaan yang tinggi terhadap anggotanya, dan sensitivitas itu mungkin kelebihan pebisnis wanita yang harus dijaga.

Kepuasan klien merupakan prioritas yang dijunjung Syita dan Tim Amaya Wedding

Q: Seperti apa sih suka duka menjadi Weddingpreneur di usia muda?

Sukanya sangat banyak, seperti terlibat di pernikahan dengan konsep-konsep yang unik. Yang paling berkesan adalah ketika handle salah satu  keturunan dari Kesultanan Solo yang request dibuatkan pernikahan semirip mungkin seperti di Solo, lengkap dengan adat istiadatnya.

Kalau lowest point saya sebagai owner Amaya Wedding mungkin pas itu pernah ketika salah satu anggota tim kami menghilangkan sebuah benda yang harusnya dijaga banget. Akhirnya, saya sebagai owner harus bertanggung jawab dan mengganti biaya yang hampir menghabiskan hampir 60% total cash yang Amaya punya. Kecerobohan itu bikin kita mulai dari 0 lagi, tapi pasti disetiap tanggung jawab dan kejujuran, rezeki akan dikembalikan lagi sama tuhan.

Q: Semua wanita ingin sukses dan mandiri, namun banyak yang mundur ketika menghadapi tantangan. Bagaimana sih tips Syita untuk menjadi Womenpreneur yang sukses?

Yang pasti harus ada niat yang kuat & ga mudah goyah. Saya juga percaya bahwa lingkungan sekitar turut memberi andil besar dalam pembentukan jiwa pebisnis dalam diri saya. Honestly, berkat berada di lingkungan Prasmul, saya belajar untuk mengelola ambisi dan jiwa kompetitif in a good way. Kemudian, kekuatan tim juga sangat berpengaruh bagi kesuksesan, saat ini Amaya sudah dibantu oleh 10 team member, ini yang terus saya jaga kesolidannya dan saya percaya dengan kerja sama pasti bisa mencapai sukses bersama-sama.

Amaya Wedding memiliki klien dengan ragam latar belakang (Dok: Bridestory)

Q: Sebagai seorang Womenpreneur muda, pernah ga sih Syita merasa dikucilkan oleh rekan bisnis atau faktor lainnya?

Pressure lebih saya rasakan dari lingkungan sosial. Dulu sebelum saya menikah, ketika usia saya sudah terbilang layak married namun saya masih tetap single, banyak orang yang ngejudge ‘Syta kebanyakan kerja sih, jadi menyepelekan lovelife-nya’. Hal-hal itu menurut saya sangat judgemental. Nah, buat teman-teman yang mengalami hal yang sama, percaya saja kalau tuhan selalu punya best timing, jadi tinggal tunggu saja deh waktunya.

Q: Bagaimana cara Syita membagi waktu antara kesibukan bisnis dengan kehidupan personal?

Yang banyak saya pelajari adalah seorang business woman harus punya support system yang kuat, beruntungnya saya dan suami bergerak di industri wedding, jadi punya ritme pekerjaan yang sama dan saling mengerti. Weekend adalah jam kerja saya yang sulit untuk diganggu, saya sering lembur bahkan nginep di venue disaat weekend.  Tapi diluar weekend, saya menjalani peran istri dengan totalitas.

Syita dan Suami, Danin (Dok: Wolipop)

Q: Setelah 8 tahun menahkodai Amaya Wedding, apa saja sih pencapaian yang sudah diraih Syita?

Impian saya sih pengin banget bisa bagi rezeki ke banyak orang lewat Amaya Wedding ini, alhamdulillah walaupun sedikit demi sedikit tapi bisa tercapai. Mendapat kepercayaan dari banyak orang untuk mengeksekusi hari bahagia klien juga pencapaian bagi saya, tandanya nama baik Amaya yang kami bangun selama ini berbuah manis.

Telkomsel mengangkat kisah inspiratif Syita Sophiaan
Syita dalam Majalah Chic
Syita Sophian (Alumni Prasmul) dalam Majalah Gogirl!

 

 

 

 

 

 

 

 

Q: Lalu, pencapaian apa yang Syita ingin capai kedepannya?

Sampai sekarang masih setia sama impian liar saya, yaitu punya wedding venue. Karena saya merasa, di Jakarta itu wedding venue outdoor yang lengkap, dengan fasilitas yang layak, dan punya aula indoor yang memadai itu masih kurang. Kalau impian pribadi, saya ingin banget mother and daughther trip lagi sama Ibu saya dan kali ini punya mimpi ke Eropa bareng, tapi itu masih harus nabung dulu, doain yaa teman-teman.

Q: Kalau dikasih kesempatan untuk mengulang, Syita tetap memilih menjadi professional dengan karir cemerlang atau pebisnis seperti sekarang ini?

Pastinya jadi pebisnis karena sudah cinta mati hehehe. Menjadi pebisnis itu mimpi saya sedari kecil. Mimpi itu  muncul karena saya melihat sosok Ibu saya. Ibu saya itu full time housewife tapi punya bisnis sendiri, beliau sangat multi-tasking mengurus keluaga serta bisnis katering dan konveksi-nya.  Saya jadi terinspirasi mau seperti ibu yang tetap mengurus keluarga, tapi punya penghasilan.

Syita dan Ibunda, Dewi Umiharti Sophiaan (Dok: Mommies Daily)

 

Q: Pertanyaan terakhir, memori apa sih yang paling Syita ingat dari Prasmul?

Prasmul itu wadah terbaik bagi teman-teman yang passionate di dunia bisnis.  Buat anak Prasmul angkatan pertama seperti saya, pasti masih inget dengan kedisiplinan dan sistem kuliah yang ketat banget yang diterapkan dosen. Saya makin yakin dengan kualitas anak Prasmul karena di Amaya ini sering banget merekrut beberapa freelancer dari berbagai universitas, tapi memang freelancer dari Prasmul itu cepat banget nangkep tugas, gerak cepat, dan ritme kerjanya cepat. Selain itu, mereka juga siap kerja banget, mungkin karena itu buah dari Business Project dan magang juga. Jadi ga kelihatan banget kalau mereka fresh graduate. (*VIO)

 

Sumber gambar:

Instagram: @amayawedding

Detik.com 

Mommiesdaily.com

Bridestory

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *