Maksimalkan Kesempatan Magang melalui Program Go Green 8.0 di Sri Lanka | Prasmulyan OJT Story

Oleh:
Yosua Andrew Limantoro
S1 Business- 2016
Vice President Talent Management – AIESEC Prasetiya Mulya

 

On the Job Training (OJT) atau magang adalah kewajiban bagi seluruh mahasiswa S1 Prasetiya Mulya di tahun pertama kuliah. Berbeda dari kampus lainnya, Prasmul mendorong kami untuk terjun langsung mengenal industri sejak semester dini, tepatnya saat libur semester 1 ke semester 2.

Selama sebulan penuh lamanya, Prasmulyan diwajibkan untuk berkontribusi penuh di organisasi tempat mereka magang. Hal itu pun berlaku bagi saya sesaat setelah selesai mengikuti ujian akhir semester 1. Merasa ingin memaksimalkan kesempatan secara penuh, saya memilih program on the job training di sebuah organisasi kepemudaan internasional, yaitu AIESEC, dan beruntung di Prasmul sudah ada Local Committee khusus AIESEC.

Setelah melalui tahap interview dengan pihak AISEC Local Committee di Prasetiya Mulya, saya lantas berseluncur di website AIESEC bernama EXPA untuk memilih satu proyek magang yang sesuai dengan minat dan bakat.  Dari ribuan proyek yang tersaji, saya tertarik dengan program Go Green 8.0 di negara yang terletak di pesisir tenggara India, yaitu Sri Lanka. Lantas, saya pun berkomunikasi melalui email dan mengikuti tahap interview  melalui Skype dengan pihak AIESEC Colombo North, Sri Lanka.

Saya pribadi belum familiar dengan Sri Lanka. Namun, bukan keluar dari zona nyaman namanya jikalau jalan yang saya tempuh adalah jalan yang cenderung aman. Dengan tekad kuat, saya mantapkan hati untuk magang di negara yang belum saya kunjungi sebelumnya untuk memecah keraguan dalam diri saya.

Colombo, Kota terbesar di Sri Lanka

Program Go Green 8.0

Proyek Go Green 8.0 adalah proyek besar yang dijalankan oleh Local Committee AIESEC di Colombo North, yang berhubungan dengan pelestarian alam di Sri Lanka. Selama satu setengah bulan lamanya, 18 relawan global yang berasal dari lintas negara, di antaranya Jerman, Jepang, Luxembourg, China, Taiwan dan Vietnam ini diberikan misi untuk menciptakan dampak positif bagi pelestarian lingkungan di Sri Lanka serta menanamkan nilai peduli lingkungan kepada masyarakat sekitar.

Kebersamaan dengan ke 18 relawan global (Exchange Participant)

Untuk menjalankan misi dengan baik, tim lintas negara  yang telah terpilih terlebih dahulu diperkenalkan dengan kondisi lingkungan sekitar. Untuk adaptasi di negara baru dan mengurangi culture shock, seluruh partisipan juga diberi pemahaman mengenai kultur di Sri Lanka.

Kegiatan yang Menarik

Apa yang saya ketahui tentang upaya pelestarisan lingkungan semakin terasah dengan ilmu yang saya dapatkan tiap harinya. Kami banyak mendapatkan pelajaran, di antaranya berlatih membuat dekomposi sampah, workshop tentang konservasi terumbu karang dan mangrove, kuliah umum tentang green concept dan ecological footprints, hingga berlatih melakukan plant surgery (operasi tanaman).

Ilmu yang kami dapatkan, selanjutnya kami terapkan dalam berbagai program menarik. Berangkat dari kurangnya kesadaran penduduk lokal akan pentingnya pelestarian lingkungan, tim 18 EP (Exchange Participant) memulai kampanye pelestarian lingkungan dengan terjun langsung membersihkan pelabuhan Dikkowita dan memberikan contoh bagi masyarakat pesisir untuk memisahkan sampah dalam beberapa kategori, yaitu jenis plastik botol, styrofoam dan sampah organik. Saya dan tim-pun memproduksi poster edukatif untuk di distribusikan kepada masyarakat pesisir pantai serta mendistribusikan tempat sampah di area pelabuhan.

Pelabuhan Dikkowita, Sri Lanka
AIESEC Exchange Participant melakukan kampanye pelestarian lingkungan dengan membagikan poster
kampanye manajemen sampah yang digaungkan program Go Green 8.0

Kami juga melakukan beberapa kunjungan untuk memberikan presentasi, pelatihan, pameran hingga performance bagi masyarakat Sri Lanka. Seperti halnya kunjungan ke Viharamaha Devi Girls School untuk memperesentasikan energi dan konservasi tanah, pelatihan di rumah sakit setempat untuk mengajarkan dekomposi sampah,  lawatan ke warga desa Kataragama untuk membantu pembasmian tumbuhan parasit melalui edukasi plant surgery hingga mempromosikan budaya Indonesia melalui pameran budaya dan pentas seni dalam program global village.

Terjun langsung membersihkan area pantai di Sri Lanka
Plant Surgery di Sri Lanka

 

 

 

 

 

 

 

 

Kuliah di Prasmul juga menghantarkan saya mendapatkan banyak kesempatan untuk berkontribusi lebih di program magang ini. Terbiasa dihadapkan dengan tugas yang mengharuskan saya untuk mampu berpikir kreatif,  saya kemudian dipercaya untuk untuk membantu merealisasikan ide ke dalam desain, mulai dari desain poster hingga slide presentasi. Saya pun turut memberi sumbangsih ide bagi pengembangan konsep pentas seni dalam Global Village.

The Struggle

Saya percaya bahwa dengan kendala dan hambatan, pembelajaran yang didapatkan akan jauh lebih inklusif. Tinggal selama 1 bulan lebih bersama 18 orang dengan kultur dan perspektif yang berbeda merupakan tantangan yang paling terasa. Tidak semua exchange participant bisa dan mau berbicara dengan berbahasa Inggris, sehingga miskomunikasi adalah hal yang lumrah terjadi. Selain itu, dengan banyaknya tugas kelompok, saya melihat tidak semua anggota kelompok memiliki manajemen waktu dan kemampuan berkomunikasi dengan baik, sehingga beberapa proyek dijalankan kurang maksimal.

Berada dalam tim cross-cultural sangat membantu melatih karakter generasi muda

Berada di negara orang yang belum dipahami sepenuhnya juga menimbulkan beberapa kendala yang harus kalian antisipasi sebelumnya.  Penting bagi kita untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperhatikan keselamatan diri dan tim, khususnya selama bepergian di negara yang belum kita kenal sepenuhnya.

Tidak Menyesal

Pembelajaran kadang tidak serta merta kita dapatkan secara eksplisit, justru dari hambatan dan kendala tersebut saya mendapatkan banyak hikmah dan pembelajaran. Pada akhirnya, saya belajar untuk memaksimalkan potensi diri khususnya belajar mandiri, belajar jiwa kepemimpinan, bekerjasama dan melatih komunikasi dengan tim yang cross-cultural, berlatih kemampuan berbahasa Inggris, menanggalkan stereotipe yang salah serta menghargai perbedaan.

Melalui program ini, tingkat kesadaran saya terhadap lingkungan pun meningkat, sehingga keinginan untuk melestarikan lingkungan di negara sendiri semakin tinggi. Tak ketinggalan, saya juga berkesempatan untuk memperluas perspektif tentang dunia global melalui interaksi langsung dengan para exchange participant, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI), team leader, penduduk lokal hingga orang asing yang saya temui di jalan, dan tak lupa memperluas koneksi global.

Semoga kisah ini dapat membangkitkan semangat Prasmulyan untuk mengambil proyek OJT seru lainnya yang tersaji dari AIESEC. Kira-kira, Negara mana sih yang ingin kalian kunjungi dan proyek apa yang ingin jalani? Ditunggu cerita serunya ya, Prasmulyan!  ( Editor: VIO)

Sumber foto:

instagram: @yosua_andrew

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *