Kenali Kondisi Financial Technology Indonesia Melalui Acara Indonesia Finance and Banking Forum (IFBF) 2017

Jakarta – 19 Mei 2017. Perekonomian Indonesia menghadapi banyak perkembangan yang signifikan dari waktu ke waktu. Faktor terbesar perubahan ini adalah perkembangan teknologi. Dari kemajuan teknologi tersebut, muncul kolaborasi antara teknologi dan ilmu ekonomi yang membentuk inovasi yang bernama Finance Technology (fintech).

Fintech bertujuan untuk memberikan layanan keuangan berbasis teknologi yang akan meningkatkan efisiensi sistem keuangan. Fintech mencakup sektor pembayaran, investasi, perencanaan keuangan dan pembiayaan.

Kehadiran fintech diharapkan bisa menjadi solusi yang bisa menjembatani manusia dengan lembaga keuangan. Di Indonesia sendiri layanan yang sering digunakan adalah crowfunding, yaitu layanan keuangan berbasis digital untuk kegiatan investasi maupun tujuan sosial. Fintech di Indonesia masih memiliki beberapa kendala, seperti peraturan dan kebijakan yang dibuat untuk pelaku fintech tidak jelas yang menyebabkan ketidakjelasan di masyarakat.

Berdasarkan kondisi di atas, S1 Finance and Banking Universitas Prasetiya Mulya menggelar event Indonesia Finance and Banking Forum (IFBF). IFBF merupakan rangkaian acara Indonesia Investment Banking Competition (IIBC). Acara IIBC tahun ini merupakan event tahunan ke-4 yang diadakan oleh S1 Finance and Banking dengan konsep kompetisi antar mahasiswa dengan skala national. Tujuan dari acara ini adalah agar mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan analytical thinking (qualitative dan quantitative), memiliki kesempatan untuk belajar secara langsung dari profesional di bidang investment banking dan menjadi ajang untuk menambah networking di antara mahasiswa. Tema yang diangkat tahun ini berkaitan dengan merger and acquisition (M&A) pada perusahaan fintech.

IFBF sebagai bagian dari IIBC merupakan event tahunan dengan konsep forum diskusi bagi profesional dan regulator untuk membahas topik yang memerlukan perhatian khusus baik dari sudut pandang profesional maupun regulator. Tahun ini, IFBF mengangkat topik yang terkait dengan fintech dengan tema besar: Attaining the Financial Inclusion.

Seminar sesi 1 tentang Status dan Kondisi Fintech Indonesia di IFBF 2017

Acara ini terbagi menjadi dua sesi. Pada sesi pertama membahas “Status dan Kondisi Financial Technology Indonesia” dengan pembicara Bapak Junanto Herdiawan (Pejabat Kepala Kantor Fintech Bank Indonesia), Peterjan van Nieuwenhuizen (Kepala Digital Perbankan BTPN), Bapak Budi Gandasoebrata (COO dari Midtrans), dan Bapak Abraham Viktor (CEO dan Co-founder Taralite). Budi memaparkan bahwa, “Fintech bukan hanya landing, tidak hanya payment, tetapi juga berbicara big data analysis. Kita harus melihat masalah apa yang terjadi di masyarakat dan menjadikannya peluang untuk fintech.” Menurut Viktor, “Pelaku fintech dan bank harus menangani segmen yang berbeda. Sejauh ini yang saya lihat pelaku fintech di Indonesia menangani segmen yang kurang strategis, sehingga mungkin bank tidak atau kurang paham mengeksekusi peluang-peluang yang tersedia.”

Sesi 2 tentang ‘Bagaimaman Fintech Bisa Mempercepat Proses Inklusif’ di IFBF 2017

Pada sesi kedua diisi oleh Bapak Hendrikus Passagi (Kepala Eksekutif Riset Keuangan Otoritas Jasa Keuangan), Jonathan Barki (Wakil Presiden GO-PAY), Ibu Idah (Direktur PSI, Phillip Indonesian Securities), dan Andi Taufan Garuda Putra (CEO Amartha Micro Fintech) dengan mengambil tema “Bagaimana Fintech Bisa Mempercepat Proses Inklusif.” Menurut Bapak Hendrikus, “Manfaat digital ekonomi, manfaat fintech sangat sempurna di luar negeri, namun di Indonesia masih banyak kendalanya. Inovasi gampang ditemukan, tapi masalah besar ketika akan diimplementasikan inovasi tersebut akan dihadapkan dengan peraturan batas-batas apalagi kalau sudah menyangkut peraturan pemerintah.”

Dari forum tersebut dapat disimpulkan bahwa kondisi financial di Indonesia harus mendapatkan dukungan dari Pemerintah agar masyarakat semakin mudah mengakses layanan keuangan, pelaku fintech juga harus berdiri kokoh dan mengambil kesempatan yang ada dan memperhitungkan resiko. Kedepannya diharapkan adanya beragam fintech dan segmentasi yang beragam.

Setelah itu, forum ditutup dengan Gala Dinner dan pertunjukan band musik dan tarian tradisional dari Universitas Prasetiya Mulya. Pada sesi terakhir IFBF, diumumkanlah pemenang kompetisi IIBC 2017. Para pemenang kompetisi tersebut adalah:

Ultimate Winner :  Terra Firma (Universitas Prasetiya Mulya)

First Runner Up :  Totally Spice (Universitas Indonesia)

Second Runner Up :  SKC Capital (Universitas Prasetiya Mulya)

Selamat kepada para pemenang  kompetisi IIBC 2017 dan sampai bertemu tahun depan di rangkaian acara IIBC dan IFBF 2018! (*DDN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *