Cerita Delegasi OSTW 2017: Menuntut Ilmu di Bangalore, Sillicon Valley ala India | Prasmulyan Success Story

Oleh Michael Stefanus
S1 Business 2013
Delegasi Outstanding Students for The World 2017

Masih ingat dengan pencapaian yang diraih tiga mahasiswa Prasetiya Mulya Farandi Kusumo (MM Reguler Angkatan 53), Michael Stefanus (S1 Business 2013) dan Maikel Imanuel (S1 Business 2015) dalam ajang  Outstanding Students for The World (OSTW) 2017?

Melanjutkan cerita di artikel “Berkat Project Bisnis, Mahasiswa Prasetiya Mulya Terpilih Menjadi Delegasi OSTW 2017” , kini para delegasi OSTW 2017 sudah kembali ke tanah air dan membawa segudang cerita menarik bagi Prasmulyan. Adapun perjalanan ke Bangalore, India berhasil di rangkum oleh salah satu delegasi, yaitu Michael Stefanus. Simak yuk ceritanya!

Mengenal Bangalore-India

Faktanya, kondisi India cukup mirip dengan Indonesia dari segi politik, geografis, kultur, dan lain lain. Lalu, apa bedanya India dengan Indonesia? Bagaimana India bisa berkembang sejauh ini?  Apakah peran pemerintah dalam perkembangan negaranya? Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari India? Pertanyaan-pertanyaan tersebut banyak terjawab dari perjalan saya, Farandi Kusumo, Maikel Imanuel (Mahasiswa Prasmul) beserta ke 9 delegasi terpilih lainnya yang mendapatkan kesempatan ke Bangalore, India bersama Kementrian Luar Negeri (direktorat diplomasi publik) pada 23 – 28 April 2017 yang lalu. Di bawah program OSTW (Outsanding Students for the World), kami menjadi banyak belajar melalui perbincangan dengan pemerintah, industries leaders, serta melihat kehidupan di India.

Sebelum keberangkatan: Seluruh peserta OSTW 2017 melakukan diskusi dengan perwakilan dari Kementrian Luar Negeri di Gedung Pancasila

India adalah sebuah negara besar dengan jumlah penduduk sebanyak 1,3 milyar dan jumlah orang super kaya sebesar 250 juta (SAMA dengan jumlah penduduk Indonesia. Bayangkan). Walaupun masih dikategorikan sebagai negara berkembang, India unggul dan memiliki banyak kemajuan dalam bidang teknologi. Banyak perusahaan yang digawangi India dan sudah mendunia; seperti HackerEarth, Infosys, Wipro, dll. Pun demikian dengan talenta sumber daya manusia asal India yang bersinar di perusahaan teknologi raksasa; sebut saja Satya Nadella, CEO Microsoft; Sundar Pichai, CEO Google, dan lainnya.

 

India, miliki ambisi sukses di tingkat global

Saya kira, salah satu slogan yang sangat menggambarkan ambisi dari negara India untuk menjadi besar adalah: “Indian at Heart, Global in Spirit”

Salah satu poster yang banyak terpampang di Airport India

Seperti kacang yang tak lupa kulit, mungkin istilah tersebut yang mendorong rakyat India untuk semangat dalam merambah kesuksesan tingkat global dengan tetap mempertahankan nilai luhur bangsanya dan berkarakter lokal. Hebatnya, slogan ini tidak hanya menjadi slogan belaka; namun sudah menjadi natur perusahaan-perusahaan yang saya kunjungi. Sebut saja Infosys; sebuah perusahaan IT Consulting di India yang melayani perusahaan-perusahaan Amerika. Selain itu, HackerEarth yang sudah mendunia dengan Hackathon-nya, serta WiPro, dan lainnya. Saya dan mungkin teman-teman juga belum mengetahui, yang membuat film animasi Hulk ( Studio MAAC), Kungfu Panda (Studio Technicolor) merupakan perusahaan startup studio animasi yang ada di Bangalore, India.

 

Michael dalam diskusi menarik di Infosys
Ikon di Infosys Campus, India
Mahasiswa Prasmul mengunjungi kantor Wipro India

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dengan ambisi ini, tidak aneh jika India (Bangalore) menjadi “dapur”nya Sillicon Valley di Amerika. Nilai inilah yang mungkin bisa dicontoh bagi perusahaan di Indonesia; yaitu untuk meningkatkan ambisi dan kepercayaan diri di ranah global, dan tidak hanya memaksimalkan kesempatan yang ada di dalam negeri.

Paparan media India terhadap kedatangan pelajar Indonesia dalam OSTW 2017
Michael Stefanus dan beberapa peserta OSTW 2017 mendapat sambutan hangat melalui ulasan dari media setempat

 

Selain itu, hasrat dari India juga terlihat dari proyek-proyek startup yang sedang dibangun. Bukan hanya bergerak dalam digital startup, namun di India, sudah mulai bergerak startup dalam bidang hardware dan dalam bidang yang lebih advance;seperti startup pembuat device monitoring truk, penelitian mengenai sequencing DNA untuk penyembuhan penyakit, pembuatan satelit oleh salah satu institusi universitas, dan lainnya.

Belajar model pembangunan ekosistem startup di Bangalore, India

Secara lebih spesifik, ada sebuah pelajaran berharga yang saya dapatkan dari India mengenai pembangunan ekosistem Startup yang sangat baik. Hal ini, dikarenakan integrasi yang sangat baik antara pemerintah, institusi pendidikan, serta para perusahaan teknologi besar.

Salah satu contohnya adalah pembentukan KBITS (Karnataka Biotechnology and Information Technology Services) sejalan dengan gerakan 10.000 startups yang di inisiasi oleh Co-working space di India NASSCOMM . KBITS menjadi organisasi pemerintah dan juga sebagai sentral dari percepatan pembangunan startup di Bangalore.

Delegasi OSTW 2017 di NASSCOM, Bangalore, India.

Mereka membuat model pembiayaan untuk startup, membangun startup warehouse untuk co-working space beserta alat-alat yang diperlukan. Adapun, dalam pengembangan solusi dan kebutuhan, pemerintah India membaginya secara spesifik menjadi beberapa kategori; misalkan IoT, digital, robotik, bioteknologi. Hal ini menyebabkan pengembangan tiap-tiap kategori tersebut bisa dipenuhi kebutuhannya secara lebih personal.

NASSCOMM – Bagian Centre of Excellence IoT
ThingsCloud: Salah satu program yang sedang dikembangkan oleh para developer di NASSCOMM

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selain itu, pemerintah India juga merangkul berbagai perusahaan teknologi besar untuk bergabung ke dalam movement ini. Ada juga tantangan besar dari pemerintah, di mana pemerintah India akan memberikan tantangan-tantangan yang sedang dihadapi, seperti masalah agrikultur, kesehatan, dan lain lain untuk dipecahkan oleh para startup.

Funding juga diberikan bagi para startup terpilih; di mana pendanaan tersebut digunakan untuk tahap Idea2POC (Idea to proof of concept) tanpa pemberian presentase kepemilikan perusahaan tersebut. Tak ketinggalan, dukungan kebijakan juga dibuat pemerintah India. Dibuatkan program seperti “layanan satu pintu” untuk mempermudah perijinan dalam pembuatan usaha, dan lainnya.

Dengan carai inilah integrasi dukungan dari segi pembiayaan, mentorship, penciptaan permintaan dari grand challenges pemerintah, serta program akselerasi, Bangalore bisa berkembang, hingga dijuluki Sillicon Valley Asia.

Belajar Menjadi Lebih Efektif dan Efisien

Jika berkunjung ke India, pastinya kita akan melihat jalanan yang penuh orang, kendaraan, dan bangunan. Menurut pendapat saya, bangunan serta transportasi di situ dari segi design tidak terlalu fancy, namun fungsionalitasnya tinggi.

Tata kota Bangalore, India
Mengunjungi Chhatrapati Shivaji Terminus, salah satu situs warisan budaya di India

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Contohnya, di Bangalore, bus memang tidak terlalu bagus, namun dari segi kuantitas, sangat banyak dan dapat memenuhi kebutuhan transportasi warganya. Selain itu, bangunan Startup Warehouse NASSCOM (semacam co-working space), dari segi design juga biasa saja; namun dari segi fasilitas, sangat lengkap. Dimulai dari fasilitas untuk startup di bidang robotik, IoT, dan lainnya.

Mengunjungi salah satu pabrik di India

Pelajarannya? Bagi saya, India sangat baik dalam memprioritaskan kebutuhannya. Mereka bisa menggunakan ‘design’ dengan cara yang paling produktif dan menggunakannya untuk mencapai target.

Penutup: Persahabatan yang akan Terus Berlanjut

Poin terakhir, dan hal yang paling penting yang saya dapatkan dari program ini adalah pertemanan serta konektifitas bersama ke-11 delegasi OSTW dan kesempatan untuk berdiskusi dengan para industry leaders di India.

Wisata ke Mumbai, India bersama para delegasi OSTW 2017

Saya pribadi sangat belajar banyak melalui interaksi, ilmu yang dibagi mengenai kehidupan beserta manajemen perusahaan. Satu harapan yang pasti: semoga persahabatan akan bisa terus berlanjut, dan akan terjalin kolaborasi di kemudian hari. Terimakasih, OSTW. Sampai bertemu lagi, India!. (Editor: *VIO)

Sumber Foto:

Facebook: Michael Stefanus

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *